MEDAN (Waspada.id): Di tengah dinamika pasar modal yang terus bergerak, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya konsistensi dan disiplin dalam berinvestasi. Kedua hal tersebut dinilai sebagai fondasi utama dalam membangun hasil investasi jangka panjang yang optimal.
Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumatera Utara, M. Pintor Nasution, menegaskan bahwa investasi bukan sekadar mengejar keuntungan cepat, melainkan tentang komitmen dalam menyisihkan dana secara rutin dan terencana.
“Investasi itu bukan soal seberapa cepat mendapatkan keuntungan, tetapi bagaimana konsistensi dan disiplin dijaga dalam jangka panjang. Dengan pola tersebut, hasil yang dibangun akan jauh lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Pintor.
Menurutnya, pendekatan spekulatif dan trading jangka pendek masih banyak diminati, khususnya oleh investor ritel pemula. Namun, strategi tersebut memiliki risiko tinggi, terutama jika keputusan diambil hanya berdasarkan sentimen pasar sesaat.
“Karena itu, kami terus mendorong masyarakat untuk memahami strategi investasi yang lebih terukur dan berkelanjutan,” tambahnya.
Pintor mengibaratkan investasi seperti menyusun batu bata satu per satu. Meski terlihat kecil di awal, langkah yang dilakukan secara konsisten akan membentuk fondasi keuangan yang kokoh di masa depan.
Salah satu strategi yang dianjurkan adalah metode Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu menyisihkan dana dalam jumlah yang sama secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi harga pasar.
“Dengan DCA, investor bisa lebih tenang menghadapi pergerakan pasar. Selain itu, strategi ini membantu membentuk harga rata-rata pembelian yang lebih stabil dalam jangka panjang,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kemudahan berinvestasi saat ini melalui fasilitas auto-debet yang tersedia di berbagai platform sekuritas dan perbankan. Fitur tersebut memungkinkan investor melakukan investasi rutin secara otomatis setiap bulan tanpa harus memantau pasar secara terus-menerus.
Lebih lanjut, Pintor menegaskan bahwa investasi kini semakin inklusif. Masyarakat tidak perlu menunggu memiliki dana besar untuk memulai, karena dengan nominal ratusan ribu rupiah, sudah dapat berinvestasi melalui berbagai instrumen seperti reksa dana maupun Exchange Traded Fund (ETF).
“Ini menjadi peluang besar, terutama bagi generasi muda yang kini semakin aktif berinvestasi. Jangan mudah tergiur keuntungan instan, tetapi fokuslah pada pembangunan aset secara bertahap,” katanya.
Dengan memulai lebih awal dan menjaga konsistensi, investor berpeluang merasakan manfaat efek bunga berbunga (compounding) dalam jangka panjang, yang menjadi kunci dalam membangun masa depan finansial yang stabil.
Sementara itu, minat masyarakat terhadap pasar modal Indonesia terus menunjukkan tren positif. Hingga akhir Februari 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat mencapai 22.969.367 Single Investor Identification (SID).
Pintor menilai, pertumbuhan tersebut harus diiringi dengan peningkatan literasi keuangan agar masyarakat tidak hanya ikut berinvestasi, tetapi juga memahami risiko dan strategi yang tepat.
Sebagai upaya edukasi, BEI secara konsisten menyelenggarakan berbagai program, salah satunya Sekolah Pasar Modal (SPM) yang rutin digelar di berbagai daerah.
“Melalui SPM, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman mulai dari dasar hingga lanjutan tentang investasi, termasuk risiko dan perencanaan keuangan jangka panjang,” tuturnya.
BEI pun mengajak masyarakat untuk memandang investasi sebagai komitmen jangka panjang. Dengan memulai sejak dini, berinvestasi secara rutin, dan disiplin menjalankan strategi, tujuan finansial di masa depan dapat tercapai secara lebih optimal. (id09)













