JAKARTA (Waspada.id): Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional terus meningkat, tecermin dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang saat ini sudah mencapai 184 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya peran pasar modal dalam pembiayaan perekonomian nasional serta semakin luas diversifikasi produk keuangan yang tersedia bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Pejabat Sementara Ketua OJK Frederica Widyasari Dewi mengatakan, struktur perekonomian domestik saat ini masih bersifat didominasi sektor perbankan.
“Oleh karena itu pendalaman pasar keuangan menjadi fokus utama OJK dengan meningkatkan peran pasar modal, mendiversifikasi sumber pembiayaan serta mengurangi risiko maturity and funding mismatch dalam sistem keuangan nasional kita,” kata wanita yang biasa di sapa Kiki tersebut saat webinar bertajuk “Outlook Ekonomi di 2026” di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Meski demikian, lanjutnya, dinamika di sektor jasa keuangan Indonesia tidak terlepas dari perkembangan perekonomian global dan domestik, terutama secara global masih banyak sekali ketidakpastian yang sangat tinggi.
“Downside risk global terus meningkat seiring dengan berlanjutnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi serta meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap potensi pembentukan asset price bubble pada sektor artificial intelligence,” ujar Kiki
Kondisi tersebut mendorong peningkatan volatilitas di pasar keuangan global, memperpanjang fase kebijakan monetar ketat, dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global ke level di bawah rata-rata historis jangka panjang.
Namun demikian, Kiki bersyukur ternyata kinerja perekonomian Indonesia tetap terjaga dan menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tantangan global tersebut.
“Kita harus bersyukur pertumbuhan ekonomi nasional secara konsisten berada di kisaran lima persen. Sepanjang 2025, perekonomian domestik tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan,” ucap Kiky.
Dia katakan, capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Terlebih lagi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen yang menjadikan sebagai salah satu pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara anggota G20.
“Sejalan dengan data itu, kita juga melihat data BPS menunjukkan sektor jasa keuangan tumbuh sebesar 7,92 persen secara tahunan pada periode yang sama,” jelas Kiki.
Menurutnya, angka tersebut menjadi laju pertumbuhan sektor jasa keuangan tertinggi sejak kuartal II-2021. Capaian tersebut didorong oleh kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif.
“Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit serta perbaikan kinerja sektor asuransi dan dana pensiun yang kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi dalam dua tahun sebelumnya,” ungkap Kiki. (Id88)











