Mendukung Ekspor, Pemerintah Bangun Fasilitas Produksi Obat Alami

  • Bagikan
Mendukung Ekspor, Pemerintah Bangun Fasilitas Produksi Obat Alami
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (ist)

JAKARTA (Waspada):Mendukung nilai ekspor obat-obatan yang meningkat 8,87 persen atau mencapai Rp8,4 triliun, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memfasilitasi pembangunan House of Wellness di Pekayon, Jakarta Timur.

House of Wellness merupakan inisiasi Kemenperin dalam membangun fasilitas produksi obat berbahan alami di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kimia, Farmasi dan Kemasan (BBSPJIKFK) Jakarta.

“Upaya ini merupakan peran aktif Kemenperin dalam mendukung kebijakan kemandirian obat bahan alam. Melalui House of Wellness, diharapkan dapat dicapai proses dan bahan baku yang terstandar,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta Timur, Selasa (6/2/2024).

Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam bahan obat tradisional dari alam, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi Industri Obat Bahan Alam (OBA) atau obat tradisional yang lebih besar.

Terlebih lagi, peluang tersebut didukung dengan penggunaan obat bahan alam, khususnya jamu yang telah menjadi suatu budaya di Indonesia, dan pada 6 Desember 2023, jamu resmi masuk dalam dalam daftar UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia ke-13 .

Saat ini, terdapat beberapa komponen perusahaan industri obat bahan alam di Indonesia, yaitu Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) dan Industri Obat Tradisional (IOT), yang telah menghasilkan 17.000 obat bahan alam golongan jamu, 79 jenis obat herbal terstandar dan 22 jenis fitofarmaka.

“Produksi obat bahan alam dapat ditingkatkan terutama fitofarmaka yang berpotensi besar untuk menjadi substitusi bahan baku obat impor dalam menuju kemandirian bahan baku obat nasional,” tutur Agus.

Dengan begitu, sambungnya, akan mendorong ketahanan kesehatan melalui kemandirian obat nasional, di mana masyarakat dapat memperoleh obat dengan mudah (accessible), terjangkau (affordable), tersedia di manapun dibutuhkan (available) dan berkesinambungan (sustainable).

Program pembangunan dan pengembangan fasilitas ini juga sinergis dengan posisi Kemenperin dalam Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka yang berada dalam gugus kerja bidang produksi.

“Saya berharap agar fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga mampu mendorong kemandirian obat nasional melalui penumbuhan industri baru, peningkatan industri kecil agar naik kelas dan pengembangan produk-produk baru serta menjadi pusat kolaborasi seluruh stakeholder dan industri obat bahan alam,” imbuh Agus.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Andi Rizaldi, menyatakan fasilitas di House of Wellness telah dilengkapi dengan peralatan dan sarana pendukung yang lengkap untuk proses pengolahan obat.

“Gedung yang terdiri dari empat lantai ini telah dilengkapi dengan peralatan pendukung dalam proses pengolahan obat berupa pengolahan simplisia (segar dan kering) yang ditunjang dengan peralatan lengkap untuk proses yang dijalankan, meliputi sortasi, pencucian, penirisan, perajangan dan pengeringan,” jelas Andi.

Selain itu, lanjutnya, fasilitas ini dapat menunjang proses ekstraksi, evaporasi, formulasi bahkan sampai dengan pengemasan produk.

Fasilitas produksi telah diinstalasi dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan mesin-mesin yang digunakan telah disesuaikan dengan mesin-mesin yang juga digunakan pada industri-industri obat bahan alam,” imbuh Kepala BSKJI.

Andi menyampaikan harapannya agar pemanfaatan fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri obat bahan alam di dalam negeri, sehingga dapat mendorong penguatan ketahanan industri obat Indonesia yang tangguh dan berdaya saing. (J03)

  • Bagikan