MEDAN (Waspada.id): Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Harga minyak jenis Brent dilaporkan menembus level US$100 per barel, memicu tekanan pada pasar keuangan global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas.
Di kawasan Asia, pergerakan bursa saham terpantau bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Sentimen positif datang dari upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, di mana AS disebut telah mengajukan sejumlah syarat gencatan senjata. Namun, pasar masih dibayangi ketidakpastian karena eskalasi konflik tetap berlangsung di tengah proses diplomasi tersebut.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat menguat ke level 7.313. Namun, tekanan eksternal membuat indeks berbalik arah dan kembali masuk ke zona merah. Pelemahan sejumlah bursa saham Asia turut memberikan dampak negatif terhadap kinerja IHSG secara keseluruhan.
Sementara itu, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan pada perdagangan pagi, berada di kisaran Rp16.880 per dolar AS. Penguatan ini ditopang oleh penurunan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun serta melemahnya indeks dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang menekan pasar saat ini.
“Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel menjadi sinyal meningkatnya risiko inflasi global. Ini yang kemudian memicu tekanan pada pasar saham dan juga emas,” ujarnya.
Menurutnya, meskipun rupiah menguat, tekanan terhadap IHSG belum sepenuhnya mereda karena pelaku pasar masih diliputi kekhawatiran terhadap kondisi geopolitik yang dapat berubah secara cepat.
“Pasar saat ini sangat rentan terhadap kejutan. Setiap perkembangan terkait konflik maupun negosiasi damai akan langsung mempengaruhi sentimen investor,” jelasnya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga berdampak pada pergerakan emas. Harga logam mulia tersebut tercatat berada di kisaran US$4.532 per ons troy atau sekitar Rp2,47 juta per gram. Tekanan pada emas terjadi seiring pergeseran preferensi investor serta meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi energi.
Gunawan menambahkan, pelaku pasar saat ini cenderung bersikap hati-hati dan masih menunggu kepastian dari hasil negosiasi antara AS dan Iran.
“Pasar masih pesimis apakah kesepakatan damai bisa segera tercapai. Karena itu, fokus investor saat ini tertuju pada perkembangan dialog tersebut,” katanya.
Dengan kondisi yang masih penuh ketidakpastian, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas yang tinggi, baik di pasar saham, mata uang, maupun komoditas global. (id09)













