JAKARTA (Waspada.id): Otoritas Jasa Keuangan (OJK) prediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 mulai ada perbaikan meski bergerak melandai. Prediksi tersebut seiring dengan adanya berbagai tantangan ekonomi dan politik, termasuk konflik AS-Venezuela yang terjadi di awal tahun.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar mengatakan, berdasarkan rilis data perekonomian global, secara umum pertumbuhan ekonomi global sepanjang 2025 mulai menunjukkan perbaikan. Terlihat dari aktivitas manufaktur global tetap berada di zona ekspansi dengan laju yang termoderasi.
“Untuk tahun 2026, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih akan berlanjut melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi, seiring dengan meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama,” katanya dalam konferensi pers Bulanan yang digelar secara daring, Jumat (9/1/2026).
Mahendra menjelaskan, di AS, perekonomian menunjukkan kinerja yang relatif solid dengan produk domestik bruto (PDB) untuk kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar. Meskipun ekspektasi perekonomian di China terjadi penurunan
“Di sisi lain, pasar tenaga kerja di AS menunjukkan tanda moderasi serta inflasi untuk November 2025 turun ke 2,7 persen, dan inflasi inti turun ke 2,6 persen. Sedangkan di China, perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah tangga yang masih tertahan,” urainya.
Terkait konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, Mahendra mengatakan, hingga kini dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan di Indonesia belum terlihat secara langsung dalam jangka pendek, namun OJK tetap mewaspadai dampaknya dalam jangka menengah dan panjang.
“Secara umum, sampai saat ini para pelaku jasa keuangan, termasuk di pasar keuangan masih terus mencermati perkembangan yang terjadi. Utamanya, risiko pada tensi geopolitik antara AS dan Venezeula, serta mencermati potensi dampak stabilitas politik dari pasar keuangan global,” tuturnya.
Dari sisi penawaran, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi dan tekanan di sektor properti masih terus berlangsung. Perkembangan-perkembangan ini mendorong sejumlah bank sentral kembali menumpuh kebijakan akomodatifnya.
“Bank Sentral AS, The Federal Reserve diketahui memangkas Federal Fund Rate (FFR) menjadi 3,5—3,75 persen. Begitu juga dengan Bank Sentral Inggris (Bank of England) pada Desember 2025 juga kembali memangkas suku bunga acuan,” ujar Mahendra.
Namun, Bank Sentral Jepang (Bank of Japan), lanjutnya, menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dasawarsa terakhir karena didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang.
“Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral itu turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan global. Keadaan ini menjafi tantangan untuk ekonomi dunia kedepannya,” terangnya.
Mahendra melanjutkan, pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan FFR, meskipun terdapat kekhawatiran terhadap potensi bubble di saham teknologi.
Sementara itu, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong kelemahan pasar sovereign bond global, seiring dengan praktik berakhirnya. Aktivitas carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut.
“Lebih lanjut, tentu kita cermati dan saksikan sendiri. Di awal tahun 2026, pelaku pasar memperhatikan perkembangan geopolitik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global,” ungkapnya.
Di tengah dinamika global tersebut, sambungnya, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat, sektor manufaktur terpantau masih ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang melanjutkan tren surplus. (Id88)











