JAKARTA (Waspada.id): Tekanan hebat kembali menghantam pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Kamis (29/1) terpaksa dihentikan sementara setelah mengalami koreksi tajam hingga 8 persen.
IHSG dibuka melemah di level 8.027 pada awal perdagangan. Namun tekanan jual yang terus membesar membuat indeks terpuruk lebih dalam hingga akhirnya Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt.
Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai tekanan yang dialami IHSG masih kuat dan berpotensi berlanjut seiring sentimen global yang belum kondusif.
“Pelemahan IHSG hari ini masih dipicu oleh kebijakan MSCI yang menunda rebalancing indeks saham Indonesia. Dampak kebijakan tersebut sulit diprediksi hingga kapan tekanan akan berakhir, apalagi ditambah dengan koreksi serentak di bursa saham Asia,” ujar Gunawan.
Menurutnya, kondisi pasar regional yang cenderung melemah turut memperbesar tekanan jual di pasar saham domestik sepanjang sesi perdagangan.
Tak hanya IHSG, nilai tukar Rupiah juga mengalami tekanan signifikan. Mata uang Garuda tercatat melemah dan ditransaksikan di kisaran Rp16.795 per dolar AS.
Gunawan menjelaskan pelemahan Rupiah tidak terlepas dari kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya.
“Keputusan The Fed tersebut berdampak langsung pada kenaikan imbal hasil US Treasury dan menguatnya indeks dolar AS ke level 96,22. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi Rupiah dan secara tidak langsung juga menekan kinerja IHSG,” jelasnya.
Sementara itu, di tengah gejolak pasar keuangan global, harga emas justru melesat tajam. Harga emas dunia tercatat menembus level USD 5.530 per ons troy, menjadi rekor tertinggi baru.
Menurut Gunawan, lonjakan harga emas dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang tetap terbuka tahun ini, ditambah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Harga emas terus menguat karena pasar melihat peluang penurunan suku bunga The Fed masih akan terjadi. Selain itu, meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat emas kembali diburu sebagai aset lindung nilai,” paparnya.
Jika dikonversikan ke Rupiah, harga emas saat ini setara dengan sekitar Rp3 juta per gram, mencerminkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian global.
Gunawan mengingatkan volatilitas pasar keuangan masih akan tinggi dalam waktu dekat, sehingga pelaku pasar perlu mencermati perkembangan kebijakan global dan dinamika geopolitik yang dapat memicu pergerakan ekstrem di pasar saham, valuta asing, maupun komoditas. (id09)











