MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan bergerak hati-hati di tengah meredanya tensi geopolitik global. Fokus pelaku pasar kini beralih ke sejumlah rilis data ekonomi penting, terutama dari Amerika Serikat (AS). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah pun dibuka menguat terbatas pada perdagangan pagi ini, Rabu (11/2/2026).
IHSG dibuka naik tipis ke level 8.152, dengan pergerakan yang masih cenderung sideways pada sesi awal perdagangan. Mayoritas bursa saham di Asia bergerak mixed setelah data penjualan ritel AS menunjukkan perlambatan pertumbuhan, yang direspons dingin oleh pelaku pasar.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai kondisi ini mencerminkan pasar yang sedang menunggu katalis baru.
“Data penjualan ritel AS yang melambat tidak jauh berbeda dengan kondisi di dalam negeri. Pertumbuhannya tidak terlalu kuat sehingga pasar saham merespons secara terbatas. Untuk IHSG hari ini berpeluang bergerak dalam rentang 8.100 hingga 8.200,” ujar Gunawan.
Dari kawasan Asia, China merilis data inflasi yang juga berada di bawah ekspektasi pasar. Inflasi China secara bulanan maupun tahunan tercatat hanya sebesar 0,2 persen. Realisasi tersebut turut membuat pergerakan bursa Asia cenderung mendatar.
Menurut Gunawan, pelaku pasar kini menanti data ketenagakerjaan AS, khususnya tingkat pengangguran yang diproyeksikan tetap berada di level 4,4 persen pada Januari 2026.
“Jika data pengangguran sesuai atau lebih tinggi dari ekspektasi, maka peluang The Fed untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga semakin terbuka. Ini bisa menjadi sentimen positif bagi mata uang emerging market, termasuk Rupiah,” jelasnya.
Pada perdagangan pagi, Rupiah tercatat menguat tipis ke level Rp16.760 per dolar AS. Gunawan memperkirakan Rupiah berpotensi bergerak dalam kisaran Rp16.730 hingga Rp16.780 per dolar AS sepanjang hari ini.
Sementara itu, harga emas dunia relatif stabil di level 5.037 dolar AS per ons troy, atau setara sekitar Rp2,7 juta per gram. Stabilnya harga emas mencerminkan minimnya sentimen geopolitik baru di pasar global.
“Sejauh ini belum ada perkembangan signifikan dari dinamika politik global. Kekhawatiran konflik antara Iran dan AS yang sempat mencuat juga belum menunjukkan eskalasi lanjutan. Karena itu, pasar memilih wait and see dan lebih fokus pada data ekonomi,” pungkas Gunawan.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan pasar keuangan domestik diperkirakan masih terbatas, sembari menunggu arah kebijakan moneter global dan perkembangan data ekonomi selanjutnya. (id09)











