Ekonomi

Pasar Keuangan Hingga Emas Bergerak Mixed

Pasar Keuangan Hingga Emas Bergerak Mixed
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan pada perdagangan hari ini, Kamis (26/2) diperkirakan cenderung terbatas seiring minimnya agenda ekonomi global. Pelaku pasar lebih memfokuskan perhatian pada perkembangan tensi geopolitik serta respons terhadap kebijakan kenaikan tarif Amerika Serikat (AS).

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, minimnya sentimen ekonomi membuat pasar bergerak variatif dengan kecenderungan menunggu kepastian arah.

“Pasar keuangan hari ini relatif sepi agenda ekonomi. Fokus utama pelaku pasar masih pada tensi geopolitik dan perkembangan kebijakan tarif AS,” ujar Gunawan, Kamis (26/2).

Ia menjelaskan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury) tercatat sedikit membaik di level 4,044 persen. Namun di sisi lain, indeks dolar AS (USD Index) justru melemah ke kisaran 97,5.

Kondisi tersebut turut berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan pagi, rupiah ditransaksikan relatif stabil di kisaran Rp16.750 per dolar AS.

“Rupiah diuntungkan oleh pelemahan USD Index pada sesi pagi ini. Untuk hari ini, rupiah berpeluang bergerak dalam rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS,” jelasnya.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat ke level 8.351, namun kembali bergerak ke zona merah. Pergerakan IHSG dinilai sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak mixed dengan kecenderungan melemah.

“Pergerakan IHSG masih sangat dipengaruhi sentimen regional. Jika bursa Asia cenderung tertekan, IHSG juga berpotensi mengikuti pola yang sama,” kata Gunawan.

Di pasar komoditas, harga emas dunia terpantau relatif stabil di kisaran 5.187 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,8 juta per gram. Pelaku pasar saat ini menanti hasil pertemuan terkait kesepakatan nuklir antara Iran dan AS.

Menurut Gunawan, hasil pertemuan tersebut akan sangat menentukan arah harga emas ke depan.

“Jika hasil pertemuan justru memperburuk tensi geopolitik, maka harga emas berpeluang melanjutkan penguatan. Sebaliknya, jika tercapai kesepakatan yang meredam ketegangan, harga emas bisa mengalami tekanan,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE