Ekonomi

Pasar Keuangan Tertekan Awal Pekan, Pelaku Pasar Fokus Perang Iran–AS–Israel

Pasar Keuangan Tertekan Awal Pekan, Pelaku Pasar Fokus Perang Iran–AS–Israel
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan domestik mengawali pekan ini dengan tekanan di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Sejumlah agenda ekonomi penting dalam negeri seperti rilis data inflasi dan neraca perdagangan sebenarnya menjadi perhatian, namun sentimen perang dinilai lebih mendominasi pergerakan pasar.

Mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi terpantau bergerak melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan terkoreksi lebih dari 1 persen ke level 8.092. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak konflik terhadap stabilitas ekonomi global.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dan ditransaksikan melemah di kisaran Rp16.835 per dolar Amerika Serikat.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai pelaku pasar saat ini lebih memilih bersikap hati-hati sambil menghitung potensi dampak lanjutan dari konflik yang terjadi.

“Pelaku pasar akan melakukan penyesuaian terlebih dahulu dengan mengkalkulasikan dampak dari perang terhadap kinerja pasar keuangan. Untuk sementara, sentimen geopolitik menjadi faktor dominan dibandingkan data ekonomi domestik,” ujar Gunawan.

Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya tekanan di pasar global. Pada akhir pekan lalu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) masih berada di kisaran 66,7 dolar AS per barel. Namun di awal pekan ini, harganya meroket hingga sempat menyentuh level 72 dolar AS per barel.

Kenaikan signifikan harga minyak tersebut dinilai berpotensi memicu efek berantai terhadap perekonomian, terutama dalam pembentukan harga kebutuhan hidup ke depan.

“Harga minyak memiliki multiplier effect yang besar. Jika kenaikannya berlanjut, hal ini bisa memicu respons negatif pelaku pasar terhadap saham maupun mata uang karena adanya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi,” jelasnya.

Sementara itu, harga emas dunia justru mengalami penguatan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Emas ditransaksikan di level 5.335 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,9 juta per gram. Bahkan pada awal perdagangan pekan ini, harga emas sempat menyentuh kisaran 5.380 dolar AS per ons troy sebelum akhirnya mengalami aksi ambil untung (profit taking) di pasar Asia.

Gunawan menambahkan, dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini, emas kembali menjadi aset lindung nilai (safe haven) pilihan investor.

“Perang telah memicu tekanan pada pasar keuangan dan mendorong kenaikan sejumlah harga komoditas. Untuk jangka pendek, volatilitas masih akan tinggi hingga ada kepastian arah konflik,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE