Ekonomi

Pasar Nantikan Keputusan BI Rate, Diproyeksikan BI Pertahankan Suku Bunga

Pasar Nantikan Keputusan BI Rate, Diproyeksikan BI Pertahankan Suku Bunga
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Pelaku pasar keuangan domestik tengah menanti keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026). Di tengah tekanan global dan pelemahan aset keuangan domestik, BI diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75 persen.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai langkah penurunan suku bunga acuan saat ini berisiko tinggi dan berpotensi memperburuk tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

“Saya menilai terlalu berisiko jika BI menurunkan bunga acuan saat ini. Potensi tekanan terhadap Rupiah justru berpeluang memburuk apabila suku bunga diturunkan,” ujar Gunawan, Rabu (21/1/2026).

Pada perdagangan hari ini, nilai tukar Rupiah ditransaksikan melemah di kisaran Rp16.950 per dolar AS. Gunawan menjelaskan, pelemahan Rupiah terjadi akibat kombinasi sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri yang terus membebani kinerja mata uang domestik.

“Memburuknya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa, yang kini meluas ke isu ekonomi, menjadi sentimen negatif utama bagi pasar keuangan domestik,” katanya.

Tekanan serupa juga dialami pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah di level 9.094, sejalan dengan memburuknya mayoritas bursa saham Asia. Isu geopolitik global kembali menjadi pemberat sentimen investor, khususnya terkait rencana Amerika Serikat yang dinilai masih berupaya menganeksasi Greenland.

“Isu geopolitik seperti rencana aneksasi Greenland serta perang tarif antara AS dan Eropa menjadi isu ekonomi besar yang menekan sektor keuangan. IHSG dan Rupiah biasanya sangat dirugikan ketika tensi geopolitik memanas dan meluas ke sektor ekonomi,” jelas Gunawan.

Di sisi lain, eskalasi geopolitik global justru membawa berkah bagi aset lindung nilai. Harga emas dunia pada perdagangan pagi ini kembali melonjak dan mencetak rekor tertinggi baru di level 4.834 dolar AS per ons troy, atau setara sekitar Rp2,65 juta per gram.

“Pasar saat ini mengkhawatirkan potensi pecahnya perang dunia ketiga. Kondisi tersebut tidak hanya mendorong lonjakan harga emas, tetapi juga meningkatkan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang kini berada di atas 4,826 persen,” ungkapnya.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS tersebut, lanjut Gunawan, berpotensi semakin menekan kinerja IHSG dan Rupiah dalam jangka pendek, seiring meningkatnya arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset aman global. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE