MEDAN (Waspada.id): Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara menyebabkan banjir di berbagai kabupaten/kota, termasuk Kota Medan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berdampak pada distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh Pertamina.
Dua kapal pengangkut BBM dilaporkan tidak dapat bersandar di dermaga akibat tingginya gelombang. Akibatnya, proses penyaluran BBM terhambat dan stok di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) semakin menipis.
Sementara itu, warga yang mulai kembali beraktivitas pascabanjir mulai berdatangan ke SPBU untuk mendapatkan BBM. Pantauan di lapangan, Sabtu (29/11/2025), terlihat sebagian besar SPBU di Medan dipadati masyarakat yang mengantre untuk mengisi bahan bakar.
Namun, tidak sedikit SPBU di kota ini yang terpaksa tutup karena kehabisan stok. Antrean panjang tampak mengular di SPBU yang masih memiliki persediaan BBM, menghiasi ruas jalan di sekitarnya.
Akbar, salah seorang pengemudi ojek online mengaku kesulitan mendapatkan BBM sejak hari Kamis (28/11). Beberapa SPBU kehabisan BBM Jenis Pertalite dan terpaksa membeli Pertamax. Begitu juga kondisi hari ini, Sabtu, untuk mendapatkan BBM semakin sulit, antrean panjang hingga ke jalan.
“Sudah keliling cari BBM di beberapa SPBU kosong. Di SPBU yang masih ada BBM antre panjang. Parah ini, minyak di sepedamotor udah menipis,” ujarnya.

Sementara itu, di SPBU Krakatau Ujung Medan, antrean sudah mencapai sekira 2 kilometer. Bahkan salah seorang konsumen mengaku sudah 2 jam antre untuk mendapatkan BBM dan dia khawatir, saat gilirannya sampai, BBM sudah habis.
“Sudah 2 jam ngantre. Kayaknya sore baru sampai antrean ke depan. Takutnya giliran sampai, minyak udah habis,” ujarnya.
Sementara itu, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyampaikan, sejak Jumat (28/11), proses recovery dan normalisasi penyaluran BBM kembali dilakukan ke SPBU-SPBU terdampak secara bertahap. Pertamina Patra Niaga Sumbagut memastikan suplai terus bergerak dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta membeli BBM sesuai kebutuhan.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) terus memperkuat langkah penanganan darurat untuk menjaga kelancaran distribusi energi di wilayah Sumatera Utara, yang hingga saat ini masih berada dalam kondisi bencana akibat hujan ekstrem, angin kencang, dan tanah longsor di sejumlah daerah. Kondisi jalur transportasi yang sempat terputus menyebabkan beberapa SPBU dan SPPBE mengalami keterbatasan operasional.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyebutkan, membaiknya kondisi cuaca mulai memberikan dampak positif bagi proses pemulihan. Gelombang laut yang sebelumnya tinggi kini telah mereda sehingga kapal pengangkut BBM dapat bersandar di Fuel Terminal Medan Group.
Sejak Jumat (28/11), proses recovery dan normalisasi penyaluran BBM kembali dilakukan ke SPBU-SPBU terdampak secara bertahap. Pertamina Patra Niaga Sumbagut memastikan suplai terus bergerak dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta membeli BBM sesuai kebutuhan. Seluruh tim di lapangan terus bekerja dalam ritme darurat untuk memastikan energi tetap menjangkau masyarakat di tengah situasi yang masih berkembang.
“Pertamina Patra Niaga Sumbagut menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana yang hingga saat ini masih berlangsung di Sumatera Utara. Dengan membaiknya kondisi cuaca, proses pemulihan mulai berjalan dan kami fokus mempercepat normalisasi penyaluran. Tim kami bergerak menyesuaikan pola suplai, melakukan alih suplai antar terminal, dan mengoptimalkan armada untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Fahrougi.
Ia menambahkan bahwa langkah-langkah percepatan dilakukan melalui penambahan mobil tangki dari Dumai, pemanfaatan skid tank, penggunaan AE Suplai, serta penugasan Awak Mobil Tangki dari luar region untuk mempercepat recovery distribusi. Pertamina juga menyiapkan perangkat pendukung seperti Starlink dan genset pada titik operasional tertentu guna menjaga kelancaran koordinasi di lapangan.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, aparat keamanan, serta para mitra transportir untuk membuka akses yang terhambat dan memastikan jalur distribusi yang masih dapat dilalui tetap aman. Situasi masih sangat dinamis, sehingga seluruh langkah mitigasi terus kami sesuaikan dengan kondisi terkini,” tambah Fahrougi.
Pertamina Patra Niaga Sumbagut mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan membeli BBM serta LPG sesuai kebutuhan karena suplai energi terus dalam proses percepatan pemulihan.
Tertunda Proses Sandar
Sebelumnya disebutkan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memastikan seluruh langkah yang diperlukan terus dioptimalkan untuk menjaga kelancaran suplai BBM kepada masyarakat. Hal ini dilakukan menyusul tertundanya proses sandar dua kapal pengangkut BBM yang sejak 23 November 2025 belum dapat melakukan bongkar muat akibat cuaca ekstrem di perairan Belawan.
Selama tiga hari terakhir, kondisi gelombang tinggi dan angin kencang di area Single Point Mooring (SPM) Belawan menyebabkan dua kapal yang membawa pasokan Pertalite dan Biosolar belum dapat sandar, meskipun secara posisi keduanya sudah berada di titik siap sandar. Proses tidak dapat dilakukan karena aspek keselamatan operasional menjadi prioritas utama ketika cuaca berada pada kategori tidak aman.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan bahwa Pertamina terus melakukan percepatan mitigasi agar distribusi BBM tetap terjaga.
“Pertamina melakukan segala upaya yang diperlukan untuk memastikan suplai tetap aman. Kami telah menyiapkan alih suplai dari Fuel Terminal terdekat serta meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Saat ini tantangan terbesar adalah kondisi cuaca ekstrem yang membuat proses sandar belum dapat dilakukan,” ungkap Fahrougi.
Sebagai bentuk mitigasi, Pertamina telah melakukan alih suplai (RAE) Pertalite dan Biosolar dari IT Lhokseumawe, FT Siantar, dan IT Dumai. Skema prioritas penyaluran juga diterapkan untuk menjaga ketersediaan di SPBU yang memasuki kategori stok kritis. Selain itu, penyaluran produk alternatif seperti Pertamax dan Pertamina Dex turut dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan energi masyarakat selama proses pemulihan suplai.
Pertamina juga berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan aparat terkait untuk memastikan situasi di lapangan tetap kondusif. Apabila cuaca mulai memungkinkan dan proses sandar dapat dilakukan hari ini, maka penyaluran Biosolar diperkirakan kembali normal malam ini, sementara Pertalite diproyeksikan normal pada 27 November 2025.
Pertamina mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tetap membeli BBM maupun LPG sesuai kebutuhan. “Kami memastikan seluruh langkah percepatan terus dilakukan, dan suplai akan segera kembali normal begitu kondisi cuaca memadai untuk proses sandar,” tambah Fahrougi. (id09)












