SLEMAN (Waspada.id): Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem gig economy berbasis teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk memaksimalkan peran generasi muda dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini dilakukan untuk menjawab tantangan keterbatasan lapangan kerja formal sekaligus memanfaatkan bonus demografi yang saat ini dinikmati Indonesia.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon mengatakan, sektor digital menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu melampaui pertumbuhan konvensional. Menurutnya, sektor digital, khususnya AI, berpotensi memberikan kontribusi hingga 20 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Digital merupakan sektor pertumbuhan yang bisa dijalankan bersama. Sektor digital, terutama AI, dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Ali saat membuka Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (15/1).
Ali menjelaskan, pemerintah telah merumuskan Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) 2025 yang mencakup percepatan empat program utama hingga 2026 serta lima program penyerapan tenaga kerja. Salah satu program prioritas adalah penguatan ekosistem gig economy yang menyasar generasi Z.
Program tersebut telah diuji melalui pilot project di DKI Jakarta pada 18 Desember 2025 dan akan diperluas ke 15 kota. Pemerintah menargetkan sebanyak 3.000 peserta per bulan mengikuti program gig economy, dengan sekitar 300 peserta pada setiap periode pelatihan.
Indonesia saat ini memiliki lebih dari 74 juta penduduk usia Gen Z yang mendominasi kelompok usia produktif. Namun, keterbatasan lapangan kerja formal, ketidaksesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri, serta pesatnya perkembangan teknologi menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.
Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z di Provinsi DIY dilaksanakan selama tiga hari, 15–17 Januari. Kegiatan diawali dengan talkshow bertema “Gig Economy untuk Gen Z: Peluang dan Tantangan” dan dilanjutkan dengan sesi pelatihan teknis. Pemerintah berharap kegiatan ini dapat menjaring talenta potensial serta ide-ide kreatif yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Ali menegaskan, pemanfaatan AI tidak serta-merta mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Menurutnya, pengembangan AI tetap membutuhkan peran manusia, khususnya dalam pengelolaan dan penyusunan struktur data sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis teknologi.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan narasumber dari kalangan industri dan akademisi, antara lain perwakilan PT Telkom Indonesia, Teleperformance Indonesia, Asosiasi Digital Kreatif, pelaku industri, serta akademisi dari Universitas Amikom Yogyakarta. (sp)










