Ekonomi

Pengamat : Januari Sumut Deflasi Besar, Nias Berpeluang Lanjutkan Deflasi

Pengamat : Januari Sumut Deflasi Besar, Nias Berpeluang Lanjutkan Deflasi
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatat deflasi cukup besar pada Januari 2026. Berdasarkan data terbaru, Sumut mengalami deflasi sebesar 0,75 persen secara bulanan (month to month/m-to-m), dengan deflasi terdalam terjadi di Kota Gunungsitoli, Nias, yang mencapai 2,37 persen m-to-m.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, capaian deflasi tersebut membuka peluang bagi Sumut untuk kembali mencatat deflasi pada Februari 2026, meskipun dalam skala yang lebih terbatas.

“Dengan realisasi deflasi sebesar itu, Sumut pada Februari 2026 masih berpeluang kembali mencetak deflasi. Khusus Kota Gunungsitoli, tren deflasi bahkan berpotensi berlanjut,” ujar Gunawan, Selasa (3/2).

Namun demikian, Gunawan menilai secara keseluruhan wilayah Sumut masih memiliki peluang mengalami inflasi ringan pada Februari. Sejumlah komoditas pangan diperkirakan akan menjadi pemicu tekanan inflasi.

“Komoditas yang berpeluang mendorong inflasi antara lain cabai merah, cabai hijau, minyak goreng curah, daging sapi, serta kemungkinan gula pasir curah,” jelasnya.

Sementara itu, beberapa komoditas lain justru berpotensi menahan laju inflasi atau bahkan mendorong deflasi, seperti cabai rawit, harga emas, serta sejumlah komoditas hortikultura jenis sayur-sayuran.

Gunawan menegaskan, perhatian khusus perlu diberikan pemerintah daerah terhadap pergerakan harga cabai merah yang mulai menunjukkan tren kenaikan di awal Februari.

“Di awal Februari ini saya melihat cabai merah sudah menyumbang inflasi. Dari sisi pasokan, distribusi yang terbatas dalam waktu dekat juga berpeluang mendorong kenaikan harga,” katanya.

Selain faktor pasokan, tingginya permintaan dari luar daerah turut memperbesar tekanan harga cabai merah di Sumut. Kondisi ini diperparah oleh potensi penurunan produksi cabai di wilayah tersebut.

“Sumut akan kembali direpotkan dengan kenaikan harga cabai merah akibat tingginya permintaan dari luar daerah. Produksi cabai di Sumut menghadapi tantangan penurunan, sehingga pembentukan harga sangat bergantung pada harga cabai dari luar Sumut, terutama Pulau Jawa,” tambahnya.

Menurut Gunawan, deflasi yang terjadi pada Januari 2026 lebih disebabkan oleh lonjakan harga signifikan pada Desember 2025, sehingga terjadi koreksi harga yang cukup tajam di bulan berikutnya.

“Harga berbalik arah setelah lonjakan besar di Desember, dan itu yang menciptakan deflasi cukup dalam di Januari,” ungkapnya.

Meski demikian, ia memproyeksikan Kota Gunungsitoli masih berpotensi mempertahankan tren deflasi pada Februari 2026. Di sisi lain, terdapat wilayah tertentu yang justru berpeluang mencatat inflasi lebih tinggi.

“Saya menggarisbawahi wilayah seperti Deli Serdang, Labuhanbatu, serta kota-kota besar di bagian timur Sumut selain Medan, yang berpeluang mencetak inflasi lebih tinggi dibandingkan wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) lainnya di Sumut,” pungkas Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE