Ekonomi

Penyempurnaan Format Distribusi Data BEI Dukung Tren Positif Pasar

Penyempurnaan Format Distribusi Data BEI Dukung Tren Positif Pasar
Kepala Bursa Efek Indonesia Perwakilan Sumatera Utara (BEI Sumut), M. Pintor Nasution
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Pasar modal Indonesia terus berkembang mengikuti kebutuhan informasi yang semakin tinggi. Seiring bertambahnya jumlah investor ritel dan meningkatnya aktivitas perdagangan, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan layanan untuk kemudahan transaksi investor, salah satunya dengan memastikan bahwa setiap pelaku pasar mendapatkan data yang relevan, terukur, dan dapat diandalkan sebagai referensi dalam pengambilan keputusan investasi.

Kepala Bursa Efek Indonesia Perwakilan Sumatera Utara (BEI Sumut), M. Pintor Nasution menyebutkan, salah satu langkah penting yang dilakukan adalah melalui implementasi penyempurnaan format distribusi data di akhir sesi 1, yang menjadi tonggak baru dalam penguatan integritas pasar sekaligus peningkatan efisiensi perdagangan.

Latar belakang perubahan ini berangkat dari hasil survei kepada para pelaku pasar yang menyampaikan bahwa selama ini distribusi data perdagangan hanya tersedia pada akhir hari (end of day/EOD) dan hasil post implementation review atas penutupan kode broker dan kode domisili tahun 2022.

“Perubahan utama dari penyempurnaan format distribusi data adalah bahwa laporan perdagangan kini didistribusikan melalui Anggota Bursa tidak hanya pada akhir hari tetapi juga pada akhir Sesi I. Implementasi ini mulai dinyatakan live pada 23 Agustus 2025 dan efektif berjalan pada 25 Agustus 2025,” ujarnya, dalam siaran persnya, Selasa (13/1/2026).

Langkah tersebut terbukti mendorong aktivitas transaksi yang lebih merata serta meningkatkan integritas pasar. Perubahan ini memberikan manfaat besar bagi para investor. Mereka dapat mengakses ringkasan data transaksi lebih awal, membaca kecenderungan pasar pada setengah hari pertama, lalu menetapkan strategi yang lebih terukur untuk sesi perdagangan selanjutnya.

“Distribusi data kepada Anggota Bursa tetap dilakukan melalui Daftar Transaksi Bursa (DTB) AB sebagaimana sebelumnya, dengan nilai tambahnya terletak pada percepatan informasi yang diterima,” ujarnya.

Pintor menyebutkan, tren data dari Januari hingga November 2025 memperlihatkan dampak positif dari implementasi kebijakan ini. Sebelum diimplementasikannya distribusi data pada akhir sesi 1 ini, rata-rata nilai transaksi harian di pasar reguler berada pada kisaran Rp11,8 triliun. Setelah kebijakan berjalan, nilai tersebut melonjak signifikan menjadi rata-rata Rp20,6 triliun per hari.

Kenaikan sebesar 73,83 persen ini menunjukkan bahwa percepatan informasi terbukti memberikan dorongan bagi peningkatan aktivitas transaksi. Pelaku pasar lebih percaya diri untuk masuk ke pasar karena informasi yang mereka gunakan jauh lebih dekat dengan kondisi aktual pergerakan harga dan volume.

Tidak hanya itu, porsi transaksi pada Sesi I juga mengalami peningkatan. Sebelum implementasi kebijakan, porsi transaksi sesi pagi berada di kisaran 53,34 persen terhadap total nilai transaksi harian. Setelah adanya distribusi data pada akhir Sesi I, angkanya bergerak naik menjadi 55,89 persen. Peningkatan 2,55 persen ini menggambarkan bahwa investor menggunakan data akhir sesi pertama sebagai bahan untuk memutuskan langkah selanjutnya, termasuk apakah akan memperbesar posisi di Sesi II atau justru melakukan aksi ambil untung lebih awal.

Gap transaksi antara Sesi I dan Sesi II pun berubah signifikan. Sebelum penyempurnaan format distribusi data, selisih kontribusi transaksi antar sesi berada di angka 6,69 persen. Setelah implementasi, gap meningkat menjadi 11,78 persen. Angka ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas yang lebih kuat pada salah satu sesi akibat investor memiliki informasi yang lebih baik untuk menentukan timing masuk dan keluar pasar. Dengan kata lain, data yang lebih cepat mendorong pasar menjadi lebih responsif, lebih likuid, dan lebih dinamis.

Penyempurnaan format distribusi data bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga tentang keadilan informasi. Ketika semua pelaku pasar memiliki akses yang sama terhadap data yang up to date, peluang terjadinya asymmetrical information menjadi lebih kecil. Ini berkontribusi pada terciptanya pasar yang lebih likuid dan efisien. Meningkatnya transaksi juga menjadi sinyal kuat bagi investor institusi maupun global bahwa pasar modal Indonesia terus berbenah menuju standar internasional.

Langkah penyempurnaan ini mempertegas komitmen BEI dalam membangun pasar yang modern, berintegritas, dan mudah diakses. Di era ketika data adalah fondasi utama dalam dunia investasi, kebijakan ini menjadi bentuk pelayanan yang memberikan nilai tambah nyata bagi ekosistem pasar modal. Investor dapat menyusun strategi lebih matang, Anggota Bursa dapat memberikan rekomendasi dengan akurasi lebih tinggi, dan pasar Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa likuiditasnya mampu bersaing di kancah global.

Dengan terus berkembangnya jumlah investor ritel dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya berinvestasi, penyediaan informasi yang lebih cepat dan berkualitas menjadi hal mutlak. Penyempurnaan format distribusi data adalah salah satu batu pijakan menuju transformasi pasar modal yang lebih besar, yang pada akhirnya akan mendorong pemerataan literasi keuangan, inklusi investasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE