Ekonomi

Perang Dongkrak NTP Petani Sumut, Tapi Jadi Ancaman Di Masa Mendatang

Perang Dongkrak NTP Petani Sumut, Tapi Jadi Ancaman Di Masa Mendatang
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara kembali mencatatkan kenaikan di tengah kondisi deflasi sebesar 0,13% secara bulanan. Kinerja positif ini menjadi kabar baik bagi petani, namun di balik itu tersimpan potensi ancaman yang perlu diwaspadai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut menunjukkan, kenaikan NTP terbesar disumbangkan oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,72%. Disusul subsektor perikanan 1,14%, tanaman pangan 0,73%, peternakan 0,56%, dan hortikultura 0,46%.

Kenaikan ini tidak lepas dari dampak konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat/Israel yang mendorong lonjakan harga komoditas global, khususnya crude palm oil (CPO). Sepanjang Maret, harga CPO melonjak dari kisaran 3.890 ringgit Malaysia per ton hingga menyentuh 4.850 ringgit per ton.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan NTP saat ini lebih banyak ditopang oleh faktor eksternal, bukan karena perbaikan fundamental di sektor pertanian.

“Kenaikan NTP yang terjadi sekarang sangat dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas global, khususnya CPO. Ini efek dari perang yang mendorong harga minyak mentah naik, sehingga ikut mengangkat harga komoditas turunannya,” ujarnya, Rabu (1/4).

Menurut Gunawan, kondisi ini memang menguntungkan petani dalam jangka pendek, terutama bagi petani perkebunan sawit. Namun, ia mengingatkan bahwa dampak lanjutan dari konflik justru berpotensi menekan petani di masa mendatang.

“Ketika harga minyak mentah naik, biaya produksi juga ikut terdorong naik. Pupuk, transportasi, hingga distribusi akan menjadi lebih mahal. Ini yang nantinya bisa menggerus keuntungan petani,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika harga pupuk terus meningkat, maka indeks harga yang dibayar petani akan ikut naik. Hal ini akan berdampak pada Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) yang berpotensi melonjak.

“Kalau BPPBM naik, NTP yang sekarang terlihat membaik bisa kembali tertekan. Jadi kenaikan saat ini belum tentu mencerminkan kesejahteraan petani yang berkelanjutan,” tegas Gunawan.

Lebih jauh, ia juga mengingatkan potensi tekanan inflasi akibat kenaikan harga pokok produksi (HPP). Dalam kondisi tersebut, harga barang cenderung naik lebih cepat karena dorongan biaya, bukan karena peningkatan permintaan.

“Kalau HPP sudah terbentuk tinggi, harga akan naik lebih dulu. Mekanisme pasar seperti supply dan demand akan menyesuaikan di belakang. Ini yang perlu diantisipasi karena bisa membebani masyarakat secara luas,” pungkasnya.

Dengan demikian, meskipun NTP Sumut saat ini menunjukkan tren positif, pelaku sektor pertanian diingatkan untuk tetap waspada terhadap risiko jangka panjang yang dipicu oleh dinamika global. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE