Ekonomi

Perang Kian Memburuk, IHSG Menguat Sementara Rupiah dan Emas Stabil

Perang Kian Memburuk, IHSG Menguat Sementara Rupiah dan Emas Stabil
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang kian meluas hingga menyeret sejumlah negara Teluk, terus membayangi pergerakan pasar keuangan global. Tekanan lanjutan masih berpeluang terjadi, terutama di kawasan Asia.

Sejumlah data ekonomi domestik seperti inflasi dan surplus neraca perdagangan sebenarnya menunjukkan kinerja yang cukup baik. Dari eksternal, membaiknya data manufaktur Amerika Serikat juga sempat menjadi sentimen positif. Namun demikian, perkembangan tersebut belum mampu menjadi katalis kuat bagi pasar saham Asia yang masih bergerak di zona merah.

Di tengah tekanan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mampu mencatatkan penguatan pada sesi pembukaan perdagangan di level 8.059. Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap potensi koreksi lanjutan.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai bahwa penguatan IHSG masih sangat rentan terhadap dinamika global.

“Mayoritas bursa saham Asia masih tertekan. IHSG memang dibuka menguat, tetapi risiko koreksi tetap besar jika tekanan di regional berlanjut. Pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar Gunawan, Selasa (3/3).

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini relatif stabil di kisaran Rp16.855 per dolar AS. Di sisi lain, dolar AS masih menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang Asia.

“Tekanan terhadap mata uang Asia belum sepenuhnya mereda. Rupiah memang stabil, tetapi jika dolar terus menguat dan tensi geopolitik memburuk, pelemahan tetap berpeluang terjadi,” jelasnya.

Di pasar komoditas, harga emas dunia masih bertahan di atas level US$5.300 per ons troy atau sekitar US$5.348 per ons troy pada sesi pagi. Di pasar domestik, harga emas ditransaksikan di kisaran Rp2,9 juta per gram.

Menurut Gunawan, emas masih menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.

“Potensi penguatan emas masih terbuka lebar. Eskalasi perang yang meningkat, ditambah imbauan pemerintah AS agar warganya meninggalkan sejumlah negara di Timur Tengah, menjadi sinyal bahwa konflik belum akan mereda dalam waktu dekat,” katanya.

Ia menambahkan, pasar keuangan dan komoditas saat ini masih dalam proses mencari titik keseimbangan baru di tengah memburuknya tensi geopolitik global.

“Selama belum ada de-eskalasi yang nyata, volatilitas akan tetap tinggi. Investor cenderung bersikap defensif dan memilih instrumen yang lebih aman,” pungkas Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE