Ekonomi

Pernyataan Donald Trump Picu Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Pernyataan Donald Trump Picu Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam
Foto ilustrasi
Kecil Besar
14px

HOUSTON (Waspada.id): Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (2/4/2026), didorong kekhawatiran gangguan pasokan global setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup melesat US$ 11,42 atau 11,41 persen ke level US$ 111,54 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent naik US$ 7,87 atau 7,78 persen menjadi US$ 109,03 per barel. Kenaikan ini menjadi lonjakan harian terbesar sejak 2020.

Meski demikian, kedua acuan harga tersebut masih berada di bawah level tertinggi sekitar US$ 120 per barel yang sempat tercapai pada awal konflik.

Lonjakan harga dipicu pernyataan Trump yang menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran akan diperluas dalam beberapa pekan ke depan. Namun, belum ada kepastian terkait akhir konflik maupun pembukaan jalur strategis Selat Hormuz.

“Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” ujar Trump.

Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan menyusun protokol bersama Oman untuk memantau lalu lintas di Selat Hormuz, yang sebelumnya sempat ditutup sebagai respons atas serangan militer sejak 28 Februari. Jalur ini sangat vital karena dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Pelaku pasar kini mengkhawatirkan potensi kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur energi Iran yang dapat memperpanjang gangguan distribusi global. Analis dari BOK Financial, Dennis Kissler, menyebut ketidakpastian ini menjadi faktor utama lonjakan harga.

“Pertanyaan utama adalah apakah infrastruktur minyak Iran kini berada dalam risiko dan berapa lama pemulihan distribusi bisa tertunda,” ujarnya.

Dalam perdagangan, harga WTI bahkan sempat diperdagangkan sekitar US$ 3 di atas Brent, kondisi yang jarang terjadi dan dipengaruhi oleh perbedaan kontrak pengiriman.

Di sisi lain, pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan penurunan premi risiko jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam beberapa minggu mendatang.

Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, menilai dampak ekonomi dari konflik ini masih belum pasti, meskipun ekonomi AS dinilai memiliki ketahanan jika konflik tidak berlangsung lama.

Sejumlah lembaga keuangan global bahkan memproyeksikan harga minyak tetap tinggi. Citi memperkirakan harga Brent dapat mencapai rata-rata US$ 95 per barel dalam skenario dasar dan US$ 130 dalam skenario optimistis pada paruh kedua tahun ini.

Sementara itu, JPMorgan memproyeksikan harga minyak bisa menyentuh US$ 120 hingga US$ 130 per barel dalam waktu dekat, bahkan berpotensi menembus US$ 150 jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga pertengahan Mei.

Dari sisi pasokan, jumlah rig minyak aktif di AS meningkat dua unit menjadi 411 pada pekan ini, menurut data Baker Hughes. Kenaikan harga mendorong produsen untuk mempertimbangkan peningkatan produksi, meski masih menunggu stabilitas pasar.

Sementara itu, upaya pembukaan kembali Selat Hormuz terus dilakukan. Inggris dijadwalkan memimpin pertemuan virtual yang melibatkan sekitar 40 negara guna membahas langkah strategis pembukaan jalur tersebut.

Tekanan pasokan global juga datang dari Rusia, di mana serangan terhadap infrastruktur energi dilaporkan telah memangkas kapasitas ekspor hingga sekitar 1 juta barel per hari atau 20 persen dari total kapasitas.

Badan Energi Internasional juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan mulai berdampak pada ekonomi Eropa sejak April, seiring berakhirnya perlindungan kontrak energi sebelum konflik pecah.

Dengan kondisi tersebut, harga minyak diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tinggi, bergantung pada perkembangan geopolitik dan kepastian distribusi energi global. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE