MALAYSIA (Waspada.id) : Fenomena baru dalam politik Islam di Malaysia kini tengah mencuri perhatian dunia politik Asia Tenggara. Kecenderungan para politisi di negeri jiran tersebut untuk menegakkan etika politik menjadi pesan kuat yang mengemuka dalam “Multaqa Darul Aman 1.0/2026” yang diselenggarakan di Alor Star-Darul Aman, Kedah, Malaysia, Jumat (16/1/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Akademia Kepemimpinan Darul Aman, Akademi Nunji, dan Yayasan Aman ini dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri dari politisi, senator, akademisi, hingga mahasiswa. Pertemuan ini secara khusus membahas Warkah atau Instruksi Khalifah Saidina Ali kepada Gubernur Mesir, Mâlik bin al-Hâris al-Asytar, sebagai rujukan utama etika kepemimpinan.
Mantan Menteri Agama Malaysia yang kini menjabat sebagai Senator, Dr. Mujahid Yusuf Rawa, dalam pidato kuncinya menegaskan komitmen Malaysia untuk bertransformasi.
“Kita di Malaysia saat ini sedang berupaya menegakkan politik yang lebih beretika dan berakhlak. Karena hanya dengan politik yang beretika-lah negara Malaysia akan dapat maju di bawah ridha Allah SWT,” tegasnya.
Mujahid menambahkan bahwa pihaknya terus mengkaji berbagai khazanah Islam dan mencatat pemikiran para pakar, termasuk kehadiran Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, pemikir asal Indonesia yang dinilainya memiliki kewibawaan keilmuan tinggi.

Sementara, Prof. Dr. Syahrin Harahap, dalam paparannya menjelaskan bahwa Warkah Saidina Ali merupakan salah satu dokumen terpenting dalam sejarah Islam.
Menurutnya, kesungguhan untuk mendalami dan meneladani pesan tersebut adalah penanda arah baru politik Islam di Asia Tenggara yang lebih merujuk pada nilai-nilai universal.
“Kecenderungan ini akan menjadi penunjuk arah baru politik Islam Asia Tenggara yang lebih merujuk pada nilai-nilai universal yang diajarkan oleh Islam, sehingga kebangkitan yang lebih substansial diharapkan akan terjadi di kawasan ini pada masa yang akan datang,” ujar Prof. Syahrin.
Guru Besar UIN Sumatera Utara, Medan ini, menguraikan tujuh pesan nilai dari instruksi tersebut yang sangat relevan bagi perpolitikan kontemporer.
Prof. Syahrin. menekankan pentingnya penegakan etika kekuasaan, di mana hakikat kekuasaan adalah milik Allah yang harus didedikasikan bagi kesejahteraan rakyat.
Selain itu, Prof. Syahrin menyoroti penegakan meritokrasi yang mengutamakan kemampuan dan prestasi individu di atas faktor kekerabatan atau koneksi politik.
Prof. Syahrin juga memaparkan pentingnya sikap egalitarianisme dan wasathiyah bagi seorang pemimpin untuk memicu partisipasi sosial.
.“Dalam Islam, selain perintah amar ma’ruf nahi munkar, juga ada penekanan terhadap penegakan keadilan, al-amru bi al-‘adli wa al-nahyu ‘an al-zhulmi,” tambahnya, merujuk pada pentingnya berlaku adil yang selalu diserukan dalam setiap mimbar Jumat.
Pesan nilai lainnya lanjut Prof. Syahrin, mencakup pemberdayaan masyarakat, kemajuan ekonomi dan perdagangan, hingga perhatian khusus terhadap tentara dan pertahanan negara guna mewujudkan kemajuan bangsa.
Ketua Penyelenggara Multaqa, Ustadz Ridzwan Abu Bakar, menyampaikan bahwa forum ini merupakan bagian dari upaya Malaysia untuk bangkit menjadi negara yang lebih maju dengan menjunjung tinggi etika politik.
“Dengan demikian negeri ini menjadi negeri yang aman, maju, dan selamat,” pungkasnya seraya memastikan bahwa Multaqa ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menghadirkan ahli dari berbagai negara.(id12)










