MEDAN (Waspada.id): Tekanan di pasar keuangan global kembali memengaruhi kinerja pasar domestik. Nilai tukar rupiah tertekan mendekati level Rp17.000 per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, sementara harga emas dunia berbalik menguat mendekati level 5.200 dolar AS per ons troy.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun menjadi salah satu pemicu utama tekanan di pasar keuangan negara berkembang.
“Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik dari kisaran 3,94 persen menjadi sekitar 4,06 persen sejak pecahnya perang Iran dengan AS di akhir Februari. Kenaikan ini membuat aset berdenominasi dolar AS semakin menarik bagi investor,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Gunawan, penguatan juga terjadi pada USD Index yang melonjak dari level 97,6 menjadi 99,1 pasca serangan AS ke Iran. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Menurutnya, lonjakan dua indikator keuangan AS tersebut sempat menekan rupiah pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar cenderung memburu dolar AS di tengah ketidakpastian global.
“Perang tidak sepenuhnya membuat pasar hanya mengakumulasi emas. Dolar AS juga menjadi pilihan lindung nilai. Bahkan sempat muncul spekulasi adanya peluang perundingan damai, yang memicu koreksi harga emas,” jelasnya.
Pada perdagangan pagi ini, harga emas dunia kembali menguat di kisaran 5.170 dolar AS per ons troy setelah sebelumnya sempat melemah ke level 5.080 dolar AS. Di pasar domestik, harga emas ditransaksikan sekitar Rp2,81 juta per gram.
Sementara itu, rupiah pada perdagangan pagi tercatat melemah ke level Rp16.925 per dolar AS, dan secara umum masih berada dalam tekanan tinggi.
Di sisi lain, IHSG dibuka melemah ke level 7.896 dan melanjutkan tren penurunan. Gunawan menilai, pelemahan IHSG dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi akibat gangguan pasokan global dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Ancaman gangguan supply serta kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Ini yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati,” katanya.
Tekanan terhadap IHSG juga sejalan dengan koreksi yang terjadi di mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Gunawan menambahkan, selama ketegangan geopolitik belum mereda dan yield obligasi AS masih tinggi, pasar keuangan domestik berpotensi tetap bergerak volatil dalam jangka pendek. (id09)












