Ekonomi

Rupiah Dan IHSG Tertekan, Emas Ikut Melemah Di Tengah Memanasnya Konflik Global

Rupiah Dan IHSG Tertekan, Emas Ikut Melemah Di Tengah Memanasnya Konflik Global
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Kinerja pasar keuangan domestik kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan pagi ini. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak melemah, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang membayangi sentimen investor.

Padahal sebelumnya, sentimen domestik terbilang cukup positif. Bank Indonesia melaporkan inflasi sebesar 0,41% secara bulanan, serta neraca perdagangan yang mencatatkan surplus sebesar 1,28 miliar dolar AS pada Februari. Data tersebut sejatinya menjadi katalis positif bagi pasar keuangan dalam negeri.

Namun, tekanan eksternal lebih dominan memengaruhi pergerakan pasar. Pada sesi pembukaan, IHSG langsung terkoreksi ke level 7.153, sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga bergerak di zona merah.

Sentimen negatif dipicu oleh perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat menyatakan bahwa konflik berpotensi berakhir, namun di sisi lain menegaskan bahwa Washington akan melancarkan serangan “sangat keras” dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Pernyataan ini justru meningkatkan kekhawatiran pasar dan memicu aksi jual di berbagai instrumen keuangan.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah dunia terpantau melemah dan bergerak dalam kisaran 100 hingga 102 dolar AS per barel. Meski demikian, pelemahan harga minyak belum mampu menopang rupiah yang justru kembali tertekan ke level Rp16.990 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (USD Index) yang naik ke level 99,88. Sementara itu, harga emas dunia juga ikut terkoreksi ke level 4.693 dolar AS per troy ons atau sekitar Rp2,57 juta per gram. Pergerakan ini terbilang tidak biasa, mengingat emas umumnya menguat saat ketidakpastian global meningkat.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa pasar saat ini berada dalam fase penuh ketidakpastian, sehingga respons investor cenderung fluktuatif.

“Meski data domestik cukup solid, pasar global masih menjadi faktor dominan. Pernyataan keras dari Amerika Serikat membuat pelaku pasar memilih keluar dari aset berisiko, termasuk saham dan rupiah,” ujarnya.

Gunawan menambahkan, pelemahan emas di tengah eskalasi konflik menunjukkan adanya perubahan perilaku pasar dalam jangka pendek.

“Biasanya emas menjadi safe haven, tetapi saat ini investor juga mencermati arah kebijakan moneter AS. Penguatan dolar membuat emas kurang menarik dalam jangka pendek,” jelasnya.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data penting dari Amerika Serikat, termasuk pidato pejabat bank sentral terkait arah kebijakan suku bunga. Selain itu, perkembangan konflik Iran–AS tetap menjadi faktor utama yang berpotensi menggerakkan pasar secara signifikan.

“Pasar masih sangat sensitif terhadap berita geopolitik. Selama ketegangan belum mereda, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi,” tutup Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE