JAKARTA (Waspada.id): Ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak ke pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah tercatat melemah pada perdagangan awal pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Bank Indonesia (BI) menegaskan terus memantau perkembangan pasar dan siap mengambil langkah responsif guna menjaga stabilitas nilai tukar.
“Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangan resmi, Senin (2/3/2026).
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, rupiah melemah 45 poin atau 0,27 persen ke level Rp16.832 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS naik 0,21 persen ke level 97,82. Tekanan terhadap rupiah disebut tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik global.
BI menyatakan akan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen stabilisasi, mulai dari intervensi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, hingga transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, bank sentral juga mengoptimalkan kebijakan guna memperkuat efektivitas transmisi suku bunga, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa lonjakan ketegangan geopolitik global lazimnya memicu pergeseran portofolio investor dari aset berisiko (risk assets) menuju aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
“Dampaknya bagi Indonesia umumnya muncul sebagai tekanan arus modal keluar, pelemahan rupiah, dan kenaikan imbal hasil surat berharga negara karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi,” ujarnya saat dihubungi B-Universe.
Menurut Josua, pada fase awal eskalasi, pelemahan rupiah biasanya masih relatif terbatas apabila pasar menilai konflik bersifat sementara dan tidak meluas. Namun tekanan dapat meningkat signifikan jika konflik berkepanjangan atau mengganggu rantai pasok energi global.
Pelaku pasar kini menanti perkembangan situasi geopolitik berikutnya, sembari mencermati langkah-langkah stabilisasi yang ditempuh otoritas moneter guna menjaga kepercayaan dan stabilitas pasar keuangan domestik. (invid)












