JAKARTA (Waspada.id): Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (9/2/2026), seiring pergerakan indeks dolar yang relatif stabil menjelang publikasi sejumlah data ekonomi penting dari Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.04 WIB di pasar spot, rupiah menguat 5 poin atau sekitar 0,03% dan diperdagangkan di level Rp 16.871 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat melemah tipis 0,02% ke posisi 97,61.
Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026) lalu, rupiah sempat tertekan dan melemah 34 poin ke level Rp16.876 per dolar AS.
Mengutip Reuters, di pasar global indeks dolar AS cenderung bergerak stabil di kisaran 97,683. Stabilnya dolar AS dipengaruhi sikap pelaku pasar yang masih menunggu rilis sejumlah indikator ekonomi utama pekan ini, seperti data penjualan ritel, inflasi, serta laporan ketenagakerjaan AS yang sebelumnya tertunda.
Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve mulai meningkat. Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang sekitar 19,9% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Maret, naik dibandingkan estimasi 18,4% pada akhir pekan lalu.
Pergerakan beragam terjadi di pasar mata uang global. Pound sterling melemah 0,1% ke level US$ 1,3598 di tengah gejolak politik yang menyeret Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Sementara dolar AS bergerak relatif stabil terhadap yuan offshore di kisaran 6,93.
Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia menguat 0,2% ke US$ 0,7028, dolar Selandia Baru naik tipis 0,1% ke US$ 0,6026, sedangkan euro bergerak mendatar di level US$ 1,1819.
Sementara itu, pasar aset kripto cenderung melemah. Harga Bitcoin turun 0,6% ke US$ 70.223,86, sedangkan Ethereum terkoreksi 0,3% ke posisi US$ 2.086,73. (invid)











