Satgas Pangan Polri Monitoring Pendistribusian Beras

  • Bagikan
Satgas Pangan Polri Monitoring Pendistribusian Beras
stok beras.ist

JAKARTA (Waspada): Tingginya harga beras di tengah masyarakat skhir-akhir ini mengharuskan satuan tugas [Satgas] Pangan Polisi Republik Indonesia [Polri] terus melakukan monitoring terhadap ketersediaan dan pendistribusian beras dari tingkat hulu hingga hilir.

“Pengawasan tersebut bertujuan, guna menjaga stabilitas harga komoditas ini di tengah masyarakat,” kata Kepala Satgas Pangan Polri Brigjen Pol. Whisnu Hermawan dalam keterangannya di kutip Selasa [13/2/2024].

Di tingkat hulu, lanjutnya, Satgas Pangan Polri akan memastikan bahwa tidak ada kendala bagi petani dalam memproduksi hasil sawahnya.

“Monitoring juga dilakukan di tingkat hilir agar tidak terjadi simpul-simpul yang dapat menghambat kelancaran jalur distribusi sampai ke konsumen,” ujar Whisnu.

Selain monitoring dan pengawasan, Satgas Pangan bersama dengan kementerian/lembaga terkait serta pemda secara rutin melakukan pengecekan di beberapa tempat penyimpanan atau gudang beras.

Menurutnya, lonjakan harga beras yang terjadi di beberapa daerah disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya gangguan cuaca, kenaikan biaya produksi, hingga keterbatasan lahan dan air, sehingga produksi di beberapa daerah sentra produksi beras menurun.

Kendati demikian, lanjut dia, kementerian/lembaga terkait telah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi beberapa faktor pemicu tersebut.

“Dalam hal ini, Satgas Pangan memastikan bahwa stok atau ketersediaan beras masih mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), Senin (12/2/2024) pukul 15.48 WIB, harga beras premium maupun medium kembali bergerak naik menjauhi harga eceran tertinggi (HET).

HET beras yang dipatok pemerintah yakni sebesar Rp10.900 hingga Rp11.800 per kilogram untuk beras medium, sedangkan beras premium Rp13.900 hingga Rp14.800 per kilogram.

Tingginya harga beras juga dirasakan oleh peritel. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, pihaknya mulai kesulitan mendapatkan pasokan beras jenis premium kemasan 5 kilogram.

Ketua Umum Aprindo, Roy N. Mandey, mengungkapkan, saat ini produsen beras telah menaikkan harga belinya, lantaran masa panen padi diprediksi berlangsung pada Maret 2024 dan impor beras belum masuk sepenuhnya.

Akibatnya, ketersediaan pasokan dan permintaan yang tidak seimbang ini telah memicu kenaikan harga beras pada pasar ritel dan pasar rakyat.

“Peritel mulai kesulitan mendapatkan suplai beras tipe premium lokal dengan kemasan 5 kilogram,” kata Roy dalam keterangan tertulisnya.

Oleh karena itu, peritel meminta pemerintah untuk merelaksasi HET dan harga acuan atas komoditas bahan pokok dan penting seperti beras, minyak goreng, hingga gula untuk periode tertentu.

Dengan begitu, peritel dapat terus membeli, menyediakan, dan menjual kebutuhan pokok dan penting bagi masyarakat, sekaligus menghindari kekosongan dan kelangkaan bahan pokok pada gerai ritel modern. (J03)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *