JAKARTA (Waspada.id): Sepanjang tahun 2025 Indonesia mengalami inflasi sebesar 2,92 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan tingkat inflasi pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini mengatakan, capai tingkat inflasi tersebut masih berada di kisaran target pemerintah yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Namun, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi sepanjang 2024 yang tercatat sebesar 1,57 persen, ataupun dibandingkan inflasi pada 2023 sebesar 2,61 persen,” ungkapnya saat konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Dijelaskan, penyumbang utama inflasi Desember 2025 secara bulanan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan inflasi sebesar 1,66 persen dan andil inflasi mencapai 0,48 persen.
Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok tersebut adalah cabai rawit dengan andil inflasi 0,17 persen, daging ayam ras dengan andil inflasi 0,09 persen, bawang merah (0,07 persen), ikan segar (0,04 persen), dan telur ayam ras (0,03 persen).
Komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi yakni emas perhiasan, dengan andil inflasi sebesar 0,07 persen, lalu bensin dengan andil inflasi 0,03 persen, dan tarif angkutan udara dengan andil inflasi 0,02 persen.
“BPS mencatat, ada komoditas yang masih memberi andil deflasi pada Desember 2025, yakni cabai merah dengan andil deflasi 0,03 persen,” ujar Pudji.
Dia melanjutkan, penyumbang utama inflasi Desember 2025 secara year on year adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi 1,33 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras.
“Komoditas penyumbang utama inflasi tahun 2025 adalah emas perhiasan, cabai merah, ikan segar, cabai rawit, dan beras,” terangnya.
Sebagai informasi, BPS mencatatkan sejumlah peristiwa penting yang berpengaruh terhadap indikator-indikator harga. Mulai dari melonjaknya harga emas di pasar global, hingga perbedaan perkembangan curah hujan pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Peristiwa penting pertama yakni terkait harga emas di pasar internasional. Tren kenaikan harga emas dunia terus berlanjut sampai akhir 2025,” ujarnya.
Kedua, batasan harga jual eceran (HJE) hasil tembakau. Pemerintah diketahui kembali melakukan penyesuaian batasan HJE hasil tembakau pada 1 januari 2025, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 97 tahun 2024. Persentasenya bervariasi antara 5—18 persen, tergantung jenis sigaret dan golongan pengusaha pabrik hasil tembakau.
Ketiga, terkait program diskon tiket transportasi. Pemerintah menerapkan program paket stimulus ekonomi pada akhir tahun 2025, berupa program diskon tiket transprtasi pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Keempat, perkembangan curah hujan. Hingga paruh pertama tahun Januari—Mei 2025 sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi curah hujan normal hingga tinggi.
“Kondisi ini mencerminkan mundurnya awal musim kemarau 2025, dan BMKG mencatat hingga awal Juni 2025, baru 19 persen wilayah Indonesia yang memasuki musim kemarau, artinya mayoritas wilayah masih dalam kondisi musim hujan, sehingga berbeda dnegan kondisi normal yang umumnya kemarau sudah berkembang lebih luas pada periode tersebut. Ini berpengaruh pada produk tanaman pangan dan holtikultura,” urai Pudji. (Id88)











