JAKARTA (Waspada.id): Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari – Februari 2026 mencapai US$ 2,23 miliar. Namun impor tercatat mengalami kenaikan hingga 14,44 persen secara tahunan atau mencapai US$ 42,09 miliar.
Tren positif surplus ini memperpanjang surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Tercatat neraca perdagangan Indonesia hingga Februari 2026 mencatat ssurplus US$ 2,23 miliar dolar,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat kelebihan US$ 5,42 miliar. Nilai ekspor kumulatif hingga Februari 2026 naik 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 6,69 persen.
“Kinerja ekspor tercatat tumbuh moderat. Namun sebaliknya, sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$ 3,19 miliar,” ujar Ateng.
Sedangkan kenaikan impor terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 17,49 persen menjadi US$ 36,93 miliar. Diikuti impor migas yang justru turun 3,50 persen menjadi US$ 5,16 miliar.
Lonjakan signifikan terlihat pada impor barang modal yang naik 34,44 persen menjadi US$ 9,10 miliar. Adapun impor bahan baku dan penolong naik 9,27 persen menjadi US$ 29,40 miliar.
Ateng mengatakan, peningkatan impor ini menunjukkan aktivitas produksi dan kebutuhan industri dalam negeri masih kuat. Namun, laju impor yang lebih cepat dibanding ekspor juga menjadi sinyal tekanan terhadap neraca perdagangan ke depan.
Cina, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia dengan kontribusi sekitar 43,85 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Di sisi lain, Cina juga menjadi negara asal impor terbesar dengan porsi 42,46 persen, diikuti Australia dan Singapura. Sejumlah komoditas unggulan menopang surplus nonmigas, antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan produk turunannya, serta alas kaki.
“Meski surplus tetap terjaga, dinamika impor yang meningkat tajam menjadi catatan penting di tengah ketidakpastian ekonomi global,” imbuh Ateng. (Id88)










