MEDAN (Waspada.id): Tekanan terhadap pasar keuangan domestik mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) perlahan bangkit, diikuti penguatan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga emas pada perdagangan pagi ini, Selasa (3/2/2026).
Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai rilis data ekonomi terbaru belum memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan pasar. Data surplus perdagangan yang lebih rendah dari realisasi sebelumnya serta inflasi tahunan sebesar 3,55 persen—lebih rendah dari proyeksi 3,7 persen—dinilai belum cukup kuat mengubah arah pasar secara menyeluruh.
“Data makro yang dirilis kemarin relatif netral bagi pasar. Pelaku pasar saat ini justru lebih fokus merespons dinamika non-ekonomi, khususnya perkembangan di sektor kelembagaan dan global,” ujar Gunawan, Selasa (3/2).
Menurutnya, sentimen pasar dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh pengunduran diri sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta hasil pertemuan antara MSCI (Morgan Stanley Capital International) dengan Self-Regulatory Organization (SRO) di Indonesia.
“Ada kabar positif dari hasil pertemuan MSCI dengan SRO setelah pasar ditutup. Setidaknya hal itu mampu meredam tekanan yang sebelumnya cukup kuat membayangi pasar keuangan,” jelasnya.
Pada sesi pembukaan perdagangan hari ini, IHSG sempat melemah hingga ke level 7.888. Meski demikian, tekanan berangsur berkurang dan indeks mulai mencoba kembali diperdagangkan di atas level 7.900.
Gunawan menyebutkan bahwa progres pembahasan sejumlah isu krusial seperti free float dan kepastian regulasi menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor.
“Walaupun tekanan belum sepenuhnya hilang, pasar mulai melihat adanya upaya penyelesaian isu struktural yang selama ini menjadi perhatian investor global,” katanya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah turut menguat ke level 16.765 per dolar AS pada perdagangan pagi. Penguatan rupiah terjadi di tengah kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke level 2,58 persen dan pelemahan tipis indeks dolar AS ke posisi 97,46.
Gunawan memproyeksikan rupiah akan bergerak relatif stabil sepanjang sesi perdagangan.
“Rupiah berpotensi bergerak dalam rentang 16.740 hingga 16.780 per dolar AS hari ini, dengan sentimen global yang masih bercampur,” ujarnya.
Pelaku pasar global juga masih mencermati sikap Presiden Amerika Serikat yang telah menunjukkan calon pengganti Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell. Menurut Gunawan, pasar masih terbelah dalam menyikapi hal tersebut.
“Ada ekspektasi bahwa Gubernur The Fed yang baru nantinya justru akan mengambil kebijakan yang lebih hawkish, meskipun tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan Presiden AS,” tambahnya.
Di sisi lain, harga emas kembali menguat pada perdagangan pagi ini, bertahan di kisaran 4.800 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,6 juta per gram. Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Secara fundamental, emas masih memiliki peluang melanjutkan penguatan selama ketidakpastian global dan risiko geopolitik masih membayangi pasar,” pungkas Gunawan. (id09)












