Ekonomi

Tensi Geopolitik Sedikit Mereda, Rupiah Dan IHSG Menguat

Tensi Geopolitik Sedikit Mereda, Rupiah Dan IHSG Menguat
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Meredanya tensi geopolitik global memberikan angin segar bagi pasar keuangan, ditandai dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta menguatnya mata uang Rupiah, meskipun sejumlah sentimen negatif masih membayangi pergerakan pasar.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, Kamis (22/1/2026), menyebutkan keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan nilai tukar Rupiah.

“Keputusan BI kemarin setidaknya mampu meredam tekanan dolar AS terhadap Rupiah. Dampaknya terlihat pada perdagangan pagi ini, di mana Rupiah kembali melanjutkan penguatan ke kisaran Rp16.895 per dolar AS,” ujar Gunawan.

Meski demikian, Gunawan menilai penguatan Rupiah masih rentan terkoreksi. Sejumlah sentimen global dinilai berpotensi kembali menekan mata uang domestik, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik hingga mencuatnya isu perang dagang yang turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun.

“Sentimen global masih cukup berat. Kenaikan yield US Treasury dan isu perang dagang membuat tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya hilang,” jelasnya.

Di pasar saham, IHSG tercatat mampu menguat pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini, meskipun sempat mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut dipicu oleh pencabutan izin usaha sejumlah perusahaan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia.

“Pada perdagangan pagi ini IHSG dibuka menguat di level 9.052, sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga bergerak positif,” kata Gunawan.

Menurutnya, pelaku pasar saham masih mencermati perkembangan isu perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa yang sebelumnya memanas akibat rencana AS terkait aneksasi Greenland. Namun, meredanya ketegangan belakangan ini menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan regional.

Sementara itu, dari pasar komoditas, harga emas dunia tercatat sempat menyentuh level tertingginya di US$4.887 per troy ounce sebelum mengalami koreksi ke kisaran US$4.785 pada sesi perdagangan Asia pagi ini.

“Harga emas domestik saat ini berada di kisaran Rp2,6 juta per gram. Koreksi yang terjadi lebih disebabkan oleh tekanan jual setelah kenaikan harga emas yang cukup tajam pada perdagangan sebelumnya,” tutup Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE