LONDON (Waspada.id): Pasar keuangan global kembali diguncang oleh ketidakpastian geopolitik. Para investor kini berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke emas dan saham pertahanan Eropa sebagai respons terhadap ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih Greenland.
Langkah ini memicu kekhawatiran akan retaknya hubungan transatlantik yang bisa mengakhiri aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan merusak tatanan global, lapor Bloomberg internasional, dilansir dari investor.id, Selasa (13/1/2026).
Meski Greenland telah menyatakan penolakan tegas, didukung oleh Eropa dan Kanada, para investor tidak lagi menganggap gertakan Trump sebagai angin lalu. Aksi militer kejutan AS di Venezuela yang berhasil menangkap Nicolas Maduro baru-baru ini menjadi bukti nyata ambisi pemerintah AS di bawah kepemimpinan Trump sulit diprediksi dan sangat agresif.
Emas dan Saham Militer Jadi “Pelarian”
Pada awal 2026 yang penuh gejolak ini, aset aman (safe haven) menjadi incaran utama:
– Harga Emas: Melonjak lebih dari 4% dalam sepekan terakhir dan mencetak rekor tertinggi baru pada Senin (12/1/2026).
– Saham Pertahanan Eropa: Mencapai level tertinggi sepanjang masa. Saham produsen tank Jerman, Rheinmetall, melonjak 19%, sementara perusahaan pertahanan Swedia, Saab, melesat 22%.
“Harga emas saat ini seolah ‘berteriak’ pasar sangat khawatir dengan risiko geopolitik,” ujar ahli strategi investasi di Manulife John Hancock Investments Matthew Miskin, Selasa.
NATO dan Tatanan Global Terancam Runtuh
Para analis memperingatkan jika AS benar-benar mengambil alih Greenland secara paksa dari Denmark (sesama anggota NATO), hal itu akan menjadi akhir dari aliansi militer tersebut. Lebih jauh lagi, keseimbangan kekuatan dunia yang telah mapan sejak berakhirnya Perang Dunia II bisa hancur berantakan.
Jika Eropa tidak lagi bisa mengandalkan AS untuk pertahanan mereka, maka investasi besar-besaran pada industri militer dalam negeri menjadi pilihan mutlak bagi negara-negara Eropa. Inilah yang mendorong reli panjang saham-saham pertahanan di kawasan tersebut.
Meskipun pasar saham dunia secara umum masih bertahan di level tinggi, para manajer portofolio mengakui risiko politik sangat sulit untuk dihitung harganya.
Ketegangan tidak hanya berpusat di Greenland. Rencana Trump untuk mengintervensi kerusuhan di Iran serta ancaman terhadap independensi The Federal Reserve (The Fed) dengan rencana pendakwaan terhadap Ketua Dewan Gubernur The Fed Jerome Powell, menambah daftar panjang kecemasan investor.
“Jika AS melanggar aturan main internasional, kita mungkin akan melihat pergeseran besar alokasi aset, di mana modal akan ditarik keluar dari Amerika menuju Eropa dan Asia,” pungkas Idanna Appio selaku manajer portofolio di First Eagle Investments.
Mengapa Greenland Begitu Penting?
Ketertarikan pemerintah AS terhadap Greenland bukanlah hal baru, namun intensitasnya mencapai puncaknya di era pemerintahan Donald Trump. Greenland adalah wilayah otonom di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark yang memiliki posisi sangat strategis di kutub utara.
Secara geografis, Greenland terletak di antara Amerika Utara dan Eropa, menjadikannya titik pantau militer yang krusial, terutama dengan keberadaan Pangkalan Udara Thule milik AS.
Selain lokasi strategis, mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim telah membuka akses ke cadangan sumber daya alam yang melimpah, termasuk gas alam, minyak bumi, dan logam tanah jarang/ rare earth metals yang dibutuhkan untuk industri teknologi tinggi.
Ambisi Trump untuk “membeli” atau menguasai wilayah ini dipandang sebagai upaya untuk mengamankan dominasi AS di wilayah Arktik dari pengaruh Rusia dan China. Namun, pendekatan agresif yang melibatkan ancaman militer terhadap sekutu dekat seperti Denmark merupakan pergeseran drastis dalam diplomasi internasional yang kini mengancam stabilitas ekonomi dan keamanan dunia. (Inv)










