Kota Langsa lumpuh. Porak poranda. Bencana banjir yang melanda kawasan ini bukan hanya menyisakan genangan air, melainkan juga isolasi. Di tengah situasi sulit itu, secercah harapan datang dari Kantor Bea Cukai Langsa.
Malam yang Mengubah Arah
Selasa (25/11) malam, tim Waspada.id yang terdiri dari Ramadan MS, dan Rizaldi Anwar, serta rekan Maskur Abdullah berencana menuju Banda Aceh. Namun, perjalanan mereka terhenti di Alue Ie Putih akibat pohon tumbang yang menyebabkan kemacetan panjang.
“Kita balik nginap di Idi saja,” ujar Ramadan, Redaktur Senior Waspada.id yang juga CEO KBA.ONE memutuskan untuk menunda perjalanan dan mencari informasi lebih lanjut.

Terjebak di Langsa
Rabu (26/11), kabar buruk datang. Akses ke Banda Aceh terputus akibat banjir yang merendam jalan lintas Sumatera. Tim Waspada.id memutuskan untuk bertahan di Langsa, sementara rekan mereka di Besitang melaporkan kondisi jalan lintas nasional yang juga terendam banjir bandang.
Pukul 10 pagi, mereka tiba di Simpang Commodore, pintu masuk utama Kota Langsa. Warga lokal melarang mereka melanjutkan perjalanan karena air sudah meninggi. Jalan Elak, jalur alternatif menuju Medan, juga terendam banjir. Tim Waspada.id terpaksa menunggu di SPBU depan Kantor BNN Langsa.
SPBU itu menjadi titik pengungsian sementara bagi warga lokal dan pelintas. Kondisi semakin memprihatinkan pada Rabu siang. Air semakin tinggi, komunikasi terputus, listrik dan air mati sejak Selasa.
“Kami pun putus komunikasi bang, armada kami juga mogok,” ujar seorang personel polisi sektor yang bertugas di kawasan itu.
Di tengah situasi yang serba sulit, warga berinisiatif membuat dapur umum sendiri. “Kami membuat dapur umum sendiri pak, untuk warga sekitar saja,” kata Mukhlis, seorang warga kota.

Menembus Keterisolasian
Kamis pagi, tim Waspada.id memutuskan untuk menuju Kualasimpang. Mereka harus melewati ketidakpastian dan kesimpangsiuran informasi karena akses komunikasi yang lumpuh. Perjalanan mereka terhenti di kawasan Bukit Tinggi, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, yang juga terendam banjir. Mereka terpaksa menginap di kawasan pengungsian hingga Sabtu pagi.
Sabtu pagi, tim Waspada.id kembali ke Kota Langsa. Genangan air sudah surut, tetapi kota itu masih porak poranda dan digenangi lumpur. Rumah Sakit Umum Daerah Langsa dan beberapa perkantoran di Jalan Ahmad Yani, jalan utama Kota Langsa, menjadi saksi bisu dahsyatnya banjir.

Harapan di Kantor Bea Cukai
Sabtu pagi, tim Waspada.id tiba di Kota Langsa. Kondisi masih lumpuh. Listrik, air, dan akses komunikasi belum pulih. Di tengah ketidakpastian itu, seorang kolega mengarahkan mereka ke Kantor Bea Cukai Langsa.
“Alhamdulillah, kami diterima baik oleh Kepala Kantor Bea Cukai dan mempersilakan kami menggunakan jaringan satelit untuk mengabari keluarga di kapal Bea Cukai Pelabuhan Langsa,” ujar Ramadan, Rizaldi Anwar, dan Maskur Abdullah.
Suasana haru menyelimuti mereka saat dapat menghubungi keluarga dan mengabarkan kondisi Langsa ke dunia luar berkat bantuan Kepala Kantor Bea Cukai Dwi Harmawanto dan jajarannya.
“Terima kasih Pak Dwi Harmawanto telah membuka keterisoliran kami,” ujar mereka bertiga dengan nada penuh syukur. Rizaldi Anwar/WASPADA.id












