Ditolak Warga, 180 Etnis Rohingya “Duduki” Kantor DPRK Pidie

  • Bagikan
Ditolak Warga, 180 Etnis Rohingya “Duduki” Kantor DPRK Pidie
Sebanyak 180 warga pendatang ilegal Rohingya bertahan di halaman gedung DPRK Pidie, Kamis (21/12) malam. Waspada/Muhammad Riza

SIGLI (Waspada): 180 Imigran gelap Rohingya “duduki” kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, Kamis (21/12) malam.

Mereka datang ke kantor wakil rakyat Pidie, itu diangkut menggunakan sejumlah truk dari Gampong Bate, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Sebanyak 180 warga imigran gelap terdiri perempuan, anak-anak dan kaum pria, sekarang memenuhi halaman gedung DPRK Pidie di bawah pengawalan aparat keamanan TNI/Polri dari Polres dan Kodim Pidie.

Kapolres Pidie AKBP Imam Asfali, mengatakan sebanyak 180 warga Rohingya, ini sudah tinggal di pesisir pantai Muara Tiga, Pidie selama 11 hari, terhitung sejak Minggu, 10 Desember 2023.

Mereka diangkut ke halaman gedung DPRK Pidie, karena tidak diterima oleh warga lokal, tempat mereka tinggal selama ini. “Sekarang kami sedang rapat dengan Pak Pj Bupati Pidie soal penangan warga Rohingya di gedung DPRK,” demikian Kapolres Pidie AKBP Imam Asfali.

Ditolak Warga, 180 Etnis Rohingya “Duduki” Kantor DPRK Pidie

Di tempat terpisah, Hasan Basri alias Toke Hasan, salah seorang tokoh masyarakat nelayan Pidie, mengatakan ada beberapa faktor alasan warga lokal menolak etnis Rohingya, Myanmar tersebut. Diantaranya Rohingya datang ke Aceh khususnya Pidie secara ilegal, tidak masuk melalui imigrasi.

Mereka mengaku datang karena kapal kayu yang membawa mereka terdampar, padahal mereka sengaja datang ke Aceh dan masuk melalui pesisir pantai. Parahnya lagi, setelah tiba di pesisir pantai, mereka melakukan perbuatan pelanggaran Syariat Islam, seperti melakukan berdua-duaan layak suami istri dengan pasangan tidak sah. Seperti terjadi di Kecamatan Muara Tiga, dan di Kecamatan Bate. Selain itu mereka juga melakukan aksi pencurian memetik kelapa warga, mereka juga mengotori lingkungan dengan sampah-sampah yang mereka buang sembarang dan juga membuang BAB sembarang seperti yang dilakukan di Kecamatan Bate, warga Rohingnya membuang hajat di dalam tambak udang warga setempat. “Jadi sepantasnya mereka diusir karena perangai mereka tidak baik. Mereka datang ke Aceh orientasinya seks bebas, mencuri dan mengotori lingkungan saja. Jujur keberadaan mereka sangat meresahkan warga kami,” katanya.

Sementara, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie yang dihubungi untuk dikonfirmasi berita tentang keberadaan warga etnis Rohingnya di Gedung DPRK Pidie, handphonenya satupun tidak ada yang aktif. (b06)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *