Komunikasi Formula E Dan Ekonomi

  • Bagikan

Komunikasi yang ditunjukkan PSI dan Menteri BUMN yang “memusuhi” Anis justru menguntungkan Anis dan malah meningkatkan elektabilitasnya di mata masyarakat. Kritik yang gagal baik dari sektor sosial, ekonomi serta kesuksesan Formula E tanpa dukungan BUMN akan menjadi flatform bagi Anis untuk berdiri lebih tinggi dari sebelumnya

Pelaksanaan balap Formula E di Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC) Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, baru saja dilaksanakan kemarin. Dikabarkan, proyek ibukota negara yang kontroversial sejak awal tersebut telah menjadi magnet sehingga para pejabat “berebut” menghadirinya. Dari presiden, para menteri, pimpinan DPR RI hingga para elit partai politik berkumpul di ajang internasional tersebut.

Dalam tulisan ini, akan membahas setidaknya dampak ekonomi dari digelarnya formula E, dan juga proses komunikasi yang berlangsung seputarnya, yang berdampak ke berbagai sektor seperti sosial dan politik. Sektor yang disebut terakhir terasa semakin menghangat seiring dengan semakin dekatnya agenda suksesi kepemimpinan nasional.

Dampak Ekonomi

Secara sederhana, agenda internasional seperti Formula E dapat difahami akan berdampak positif pada perekonomian nasional. Karena setelah selama sekira dua tahun pandemi Covid-19 telah membatasi ruang gerak sosial ekonomi masyarakat, maka dengan digelarnya secara sukses Formula E tentu akan membuka kran kegiatan ekonomi yang selama ini tertutup.

Tak kurang pakar ekonomi Ninasepti Triaswati mengungkapkan dampak positif ajang Formula E Jakarta 2022 untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Dia menilai keuntungan ajang balapan mobil listrik tersebut tidak hanya bisa dinikmati penyelenggara namun juga masyarakat umum.

“Sebelumnya ada argumen dikhawatirkan biaya besar yang dikeluarkan untuk Formula E tidak balik. Namun kemarin Menteri Pariwisata Sandiaga Uno menyebutkan ada kemungkinan perkiraan keuntungannya mencapai sekitar Rp2,5 triliun,” kata Ninasepti sebagaimana disiarkan media.

Dia juga melihat bukan hanya tujuan bisnis dari kegiatan Formula E, lebih dari itu juga pemantik ekonomi masyarakat. Ninasepti berharap tidak ada masalah terkait pembayaran komitmen Rp560 miliar dengan dana APBD yang tengah diselidiki KPK. Pasalnya dia melihat biaya komitmen tersebut sudah dicover sebelum pandemi Covid-19 sehingga tidak bersaing dengan dana untuk masyarakat.

Hal yang tak ternilai adalah bahwa Formula E Jakarta bisa membuat reputasi Indonesia menjadi baik di mata dunia. Karena hal tersebut menunjukkan Indonesia mampu bangkit kembali pasca pandemi Covid-19. Menurutnya hal tersebut juga meningkatkan kegiatan menjadi barometer nasional untuk ikut melakukan pemulihan.

Proses Komunikasi

Persoalan Formula E ini menghangat sejak Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) partai politik yang gagal menempatkan wakilnya di DPR RI di Senayan tersebut mempersoalkan program Pemprov DKI Jakarta tersebut. Formula E disebut sebagai proyek ambisius yang merugikan dan dianggap tidak mungkin tercapai.

Giring Ganesa Ketua Umum PSI yang juga mantan artis yang notabene adalah pesohor yang banyak dikenal, membuat video yang di-upload-nya di media sosial tersebut kemudian tersebar luas. Apalagi kemudian media massa seperti televisi, sampai media online menyiarkan ulang pernyataan Giring tersebut sehingga membuat persoalan ini semakin tersebar.

Tidak dapat dihindari pro kontra yang tercipta kemudian membuat persoalan ini semakin viral dan menjadi buah bibir di antara persoalan lain yang juga tengah pusat perhatian seperti kelangkaan minyak goreng dan perang Rusia dan Ukraina.

Apalagi setelah ajang Formula E selesai dibangun dan beroperasi, tidak ada BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang menjadi sponsor sebagaimana ajang bergensi lainnya. Menteri BUMN Erick Thohir beralasan bahwa BUMN sudah berpartisipasi menjadi sponsor di berbagai agenda, mulai dari G20 hingga beberapa gelaran lainnya. Menurutnya, tanpa dukungan sponsor dari satupun BUMN, ajang Formula E dipastikan akan tetap digelar di Jakarta.

Padahal sebelumnya pelaksana Formula E sangat berharap peran serta BUMN menjadi sponsor dalam kegiatan tersebut. Ketua Pelaksana Formula E Jakarta, Ahmad Sahroni mengaku dirinya sudah beberapa kali berharap dan meminta BUMN untuk menjadi sponsor dalam ajang Formula E.

Ia bahkan mengirim surat kepada BUMN untuk bersedia menjadi sponsor. Ia menegaskan, harapannya agar BUMN bisa mensponsori Formula E demi Indonesia, bukan Jakarta maupun Gubernur DKI, Anies Baswedan. Karena Formula E merupakan sebuah acara yang akan disorot dunia karena disiarkan di 170 negara.

Video Giring dan sikap Menteri BUMN yang tidak mau mensponsori ajang Formula E yang mendunia menunjukkan kesan yang kuat adanya tarikan kepentingan politik di antara para elit. Tarikan kepentingan tersebut diduga kuat berkaitan dengan suksesi kepemimpinan nasional tahun 2024 mendatang.

Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan belakangan disebut-sebut sebagai salah satu calon kuat kandidat presiden menggantikan Jokowi. Dari beberapa hasil survei, Anis memiliki elektabilitas yang paling tinggi di antara nama-nama elit lainnya yang saat ini telah mulai bersaing memperebutkan hati rakyat Indonesia.

Tapi dari kesan yang muncul, sikap yang ditunjukkan PSI dan Menteri BUMN yang “memusuhi” Anis justru menguntungkan Anis dan malah meningkatkan elektabilitasnya di mata masyarakat. Kritik yang gagal baik dari sektor sosial, ekonomi serta kesuksesan Formula E tanpa dukungan BUMN akan menjadi flatform bagi Anis untuk berdiri lebih tinggi dari sebelumnya.

Pola dari proses komunikasi seperti di Formula E ini kiranya bukan yang pertama. Karena dalam bebagai kesempatan lainnya, Anis sebagai Gubernur DKI Jakarta yang menggantikan Ahok yang menjadi narapidana, sering berada pada posisi yang sama. Anis disudutkan, kemudian Anis menjawab, lalu terbangun kesan yang positif di tengah masyarakat terhadap Anis. Begitu seterusnya.

Kesimpulan

Jika proses komunikasi seperti ini akan terus berlanjut, maka itu sama halnya menyediakan karpet merah bagi Anis untuk melenggang ke kursi Presiden RI di tahun 2024. Muncul pertanyaan kemudian, apakah pola komunikasi seperti ini dilakukan dengan sengaja (by design) di antara para elit atau muncul secara seketika karena kepentingan-kepentingan yang muncul di antara kekuatan politik yang ada.

Akan menarik manakala membangun asumsi bahwa kedua hal di atas sama-sama memiliki potensi terjadi. Atau boleh jadi keduanya berlangsung secara bersamaan, sporadis dan dengan kadarnya masing-masing. Bagaimana pun akan banyak sekali indikator yang dapat diuraikan untuk membentangkan asumsi tersebut. Baik dari pihak Anis maupun dari pihak yang secara kasat mata berada pada posisi berhadap-hadapan kepentingan dengan Anis.

Penulis adalah Guru Besar Fisip USU dan STIK-P Medan.

Penulis: Oleh Suwardi Lubis
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *