Pers Di Mata Tribuana Said

  • Bagikan
Pers Di Mata Tribuana Said
H. Tribuana Said, MDS (kiri) berbincang tentang dunia pers dalam podcast Waspada TV, Rabu (10/4), menyambut HUT ke-77 Harian Waspada, 11 Januari 2024. Waspada/Hang Tuah Jasa Said

MEDAN (Waspada): Harian Waspada, salah satu surat kabar tertua di Indonesia terbit 11 Januari 1947, hari ini 11 Januari 2024 genap 77 tahun. Di usia yang tidak lagi muda dan di tengah gempuran media online, Waspada tetap eksis.

H. Tribuana Said, MDS merupakan anak sulung dari pendiri Harian Waspada, pasangan H. Mohammad Said dan Hj. Ani Idrus ini memberikan pandangan tentang Pers.

Dalam podcast edisi khusus Waspada TV yang dipandu host Armin Rahmansyah Nasution, Rabu (10/1), wartawan senior Tribuana Said yang akrab disapa Pak Tri, lahir di Medan, 6 Agustus 1940 ini menilai pers saat ini dan pers zaman perjuangan dulu berbeda.

‘’Pers zaman dulu berjuang untuk kemerdekaan, berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan. Jadi jadi wartawan dulu adalah kepuasan, kepuasan hasil karya diterbitkan membantu bangsa dan negara bisa lepas dan mengusir penjajah. Idealisme dulu masih kuat,’’ ucap Tribuana.

Tetapi saat ini Tribuana tidak membantah dunia pers telah masuk ke fase industri. ‘’Dulu lebih banyak sosialnya, perjuangan fisiknya, saat ini pekerja pers cenderung ke sisi penegakan hukumnya. Mengutamakan tujuan menegakkan kebenaran. Makanya, Harian Waspada mengambil motto ‘Demi Kebenaran dan Keadilan’,’’ tuturnya.

Tribuana pun membenarkan istilah ‘jika ingin kaya, jangan jadi wartawan’.

Sebelumnya, Tribuana yang aktif mengajar di Lembaga Pers Dr Soetomo Jakarta ini menceritakan awal terjun ke dunia pers sebagai pekerja pers tahun 1957, dimana saat itu Dewan Pers belum ada dan dirinya tidak masuk dalam organisasi pers manapun.

‘’Tahun 1957 itu saya menerbitkan mingguan Waspada Teruna. Nama Teruna diambil dari nama adiknya yakni Teruna Jasa Said yang saat ini menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Harian Waspada,’’ ucap Tribuana.

Tribuana menyebut menggunakan nama Teruna itu karena isi surat kabar mingguan yang diterbitkan berisi konten untuk anak muda, seperti halaman hiburan, musik dan lagu.

‘’Berarti saya menggeluti pers sudah 66 tahun. Betah, karena panggilan hati dan pikiran. Untung saja kedua orang tua saya membebaskan saya mendirikan koran mingguan tersebut, karena berada sekantor juga dengan beliau yang memimpin Harian Waspada,’’ ucap Tribuana.

Untuk lebih lengkapnya, pembaca Harian Waspada dapat menyaksikan obrolan berdurasi hampir satu jam ini lewat kanal youtube Waspada TV. Selamat Hari Jadi Ke-77 Harian Waspada.(m29)

  • Bagikan