MEDAN (Waspada.id): Industri rekaman musik tanah air kembali mengangkat potensi musisi asal Kota Medan. Sebuah grup band yang pernah berkibar di era 1990-an di Sumut: Morbid, belum lama ini didapuk masuk dapur rekaman major label di Jakarta. Hasilnya, sebuah mini album berisikan 4 lagu.
Namun sebelum mini album dikeluarkan, produser merilis lebih dulu single ke publik bertitel ” Tak Punya Hati” pada 23 Januari 2026 lalu di platform layanan streaming digital terkemuka seperti YouTube, YouTube Music, dan Spotify.
Single berjudul “Tak Punya Hati” langsung saja menarik perhatian publik karena selain musiknya cadas liriknya mengkritisi perilaku elit politik serta situasi sosial sekarang di negeri ini, terutama pasca bencana banjir dan longsor Sumatera beberapa waktu lalu.
Kembalinya Morbid ke industri musik disyukuri oleh banyak penggemarnya – terutama di Sumatera Utara- di mana mereka mengawali karir dan nama band MORBID berkibar menjadi line up yang ditunggu-tunggu di panggung musik rock kala itu.
Morbid terbentuk sejak 1991 dikenal sebagai pionir musik metal di Medan. Pada era 1990-an, lagu-lagu mereka seperti “Rekayasa” dan “On Death and Dying” menjadi anthem komunitas metal lokal. Morbid juga band metal pertama yang diterima mengisi acara Blantika Musik TVRI Medan yang pada waktu itu didominasi musik pop.
Wartawan musik senior, Diurnanta, salah satu yang mensyukuri Morbid come back. “Morbid adalah band death metal Medan pertama yang diterima mengisi program musik bergengsi TVRI Medan (kini Sumut) pertengahan 90-an, Blantika Musik ,” kenang Diur di Medan, Kamis (26/3/2026) .
Dia pun mengungkapkan jika panggung-panggung musik cadas di Medan saat itu terasa seperti ada yang kurang jika tanpa Morbid. “Morbid itu punya lagu-lagu bagus, performa yang lasak tapi asyik dan punya massa tersendiri,” imbuh Diur yang dulu juga pernah memanggungkan MORBID dalam sebuah event bareng band Bandung LochNess dan vokalis Nafa Urbach.
Sejak tayang di YouTube, single “Tak Punya Hati” sampai kini telah mencapai lebih dari 1200 kali tayang.
“Musiknya masih seperti Morbid 30 tahun lalu, tapi dengan sound kekininan dan untuk lirik video kami update dengan teknologi AI,” jelas drummer Ade Alfiansyah kepada wartawan di kawasan Tebet, Jakarta.
Idenya muncul spontan ketika personil Morbid: drummer Ade, gitaris Keykey, bassis vokalis Alay dan Sandi bersua untuk lepas candu ngejam di sebuah studio di Jakarta.
Dia menyebut pertemuan itu bukan jamming biasa karena sudah hampir 15 tahun mereka tidak main musik bareng lantaran kesibukan pekerjaan. Hari itu mereka memainkan lagu-lagu yang dulu biasa Morbid bawakan di panggung-panggung, kover lagu-lagu Sepultura, Metallica, dan sejumlah lagu metal lain.
“Seingatku 25 tahun lalu kami terakhir main band bersama, pas kemaren aku ajak mereka ketemu ngejam gak taunya kog masih menyatu soulmatenya,” ungkap Ade yang keluar dari Morbid tahun 1995 untuk menekuni bisnis industri musik audio bersama Irif, eks vokalis petama Morbid.
Ade mengungkapkan pengalaman bermusik paling berkesan waktu di Morbid khususnya waktu bertiga dengan Keykey dan Alay memainkan death metal.
“Di situlah kami buat lagu Rekayasa. Jadi itu membekas. Memang kami masih aktif saling kontak karena sama-sama di Jakarta tapi belum ada tercetus rencana untuk reuni,” tutur Ade.
“Barulah sekitar September ketika waktuku lowong aku ajak mereka ketemu ngejam gak taunya kog masih menyatu soulmatenya, aku bilang cemana kalau kita buat album Morbid. Boleh aja de, kata mereka. merekapun tertarik. Ya udah, selanjutnya langsung aku telpon Didi yang stay di Medan dan langsung proses membuat lagu jarak jauh. Aku, Alay dan Kekey bikin musiknya, Didi buat vokal. Semua ada 5 lagu. Empat lagu baru satu lagu recycle dari album Load 2005,” beber penggemar Neil Part, drummer grup Rush ini.
Kendati come back setelah lama vakum, Ade menegaskan mereka bukan band nostalgia. “Ini bukan band nostalgia, ini mau ngeband lagi,” sebutnya.
“Aku benar benar gak mau bernostalgia, yang kurasakan surprise, ternyata sudah 30 tahun vakum ternyata kami masih bisa berkarya,” tutup Ade.
SIngle “Tak Punya Hati” diinspirasi dari peristiwa bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Peristiwa bencana itu sangat menyentuh hati nurani mereka sebagai anak rantau di ibukota karena mereka semua berasal dari Sumut.
“Sebagai seniman musik jujur kami sedih, marah, kecewa dan prihatin atas kondisi tersebut, apalagi laporan pejabat tak sesuai dengan fakta di lapangan ” ujar Ade. (id08)













