Internasional

Iran Tutup Total Pintu Perundingan Nuklir dengan AS, Duta Besar: “Tidak Ada Lagi Negosiasi”

Iran Tutup Total Pintu Perundingan Nuklir dengan AS, Duta Besar: “Tidak Ada Lagi Negosiasi”
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi.tangkapan layar
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Republik Islam Iran resmi menutup semua jalur perundingan nuklir dengan Amerika Serikat (AS).

Setiap upaya atau penawaran dari pihak AS untuk membawa Iran kembali ke meja perundingan baik terkait program nuklir maupun sistem demokrasi dalam negeri akan ditolak tegas.

Demikian Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026). Menurutnya, negaranya tidak dapat lagi mempercayai komitmen AS dalam usaha bersama menghindari permusuhan dan perang.

“Saat ini kami tidak lagi percaya perundingan dengan Amerika Serikat, karena ketika perundingan kami lakukan, Amerika Serikat dengan Zionis Israel menyerang Iran,” kata Boroujerdi.

Sikap keras tersebut muncul setelah Iran berkali-kali mengikuti dorongan AS untuk berdialog, namun tetap menjadi target penyerangan dan agresi bersama Israel.

Boroujerdi menjelaskan, Iran telah lebih dari lima kali tunduk pada kemauan AS untuk berunding tentang program nuklir sejak 2015, termasuk dalam kerangka Kesepakatan Nuklir Bersama yang Komprehensif (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) yang telah disetujui Dewan Keamanan PBB.

Namun, AS secara sepihak keluar dari kesepakatan tersebut. Setelah itu, Iran menjadi target kampanye hitam internasional dengan narasi memproduksi senjata nuklir yang mengancam, yang berujung pada sanksi dan serangan. Meskipun demikian, Iran tetap mau masuk dalam perundingan baru.

“Setelah itu (JCPOA) kami lima kali melakukan perundingan, dengan lima putaran. Sampai sebelum putaran keenam tahun lalu (2025), kami mendapatkan serangan militer dari Zionis Israel dan Amerika Serikat,” ujarnya.

AS kembali memaksa Iran untuk berunding, dan sebagai negara yang ingin mencegah peperangan, Iran tetap meladeninya. Namun, baru dua kali negosiasi dilakukan sebelum serangan kembali terjadi menjelang putaran ketiga.

Kondisi ini semakin memperkuat keputusan Iran untuk tidak lagi terlibat perundingan tanpa jaminan keamanan.

Serangan dari AS dan Israel dimulai sejak Sabtu (28/2/2026) lalu. Hingga kini, Iran berada dalam posisi bertahan dan membalas serangan tersebut. Perang terbuka ini juga berdampak luas ke kawasan Teluk, karena Iran melancarkan serangan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS.

Dalam serangan tersebut, Iran kehilangan Pemimpin Tertinggi Wali Agung Ayatullah Ali Khamenei yang wafat setelah rumah tinggal dan kantornya dibom dengan rudal dan misil.(rep)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE