MAKKAH(Waspada): Jamaah haji yang akan melaksanakan melontar pada hari kedua mengaku tetap semangat walaupun harus berjalan kaki lagi. Hal itu disampaikan Dr.HM Nurdin Amin kepada Waspada dari Tanah Suci,Kamis(29/6).
“Kalau pagi, masih terasa sisa capek melontar hari hari pertama. Perjalanan dari kemah ke terowongan bisa mencapai lebih kurang setengah kilometer. Masuk terowongan dua kali. Terowongan pertama dalam perut gunung satu kilometer lebih. Ada fasilitas eskalator di dalamnya, dapat digunakan semua jamaah,”tulis Nurdin Amin melalui pesan WhatsApp.
Kata dia, keluar eskalator jalannya yang beratap dan bisa menyaksikan suasana arah ke Jumroh jalur lantai dasar dan dua. Diperkirakan sepanjang setengah kilometer.
Kemudian dapat terowongan di dalam perut gunung yang dilalui oleh jamaah. Dalam terowongan ini pun dilengkapi dengan eskalator datar seperti eskalator eskalator yang digunakan di bandara bandara internasional. Dengan penjagaan dan pengawalan pengendalian yang terukur dan terkendali.
Sepanjang perjalanan sering dijumpai pihak petugas menyemprotkan air dingin ke arah wajah para jamaah.
“Saya selalu minta untuk di semprot biar terasa dingin dan nyaman. Dalam perjalanan pergi ke Jumroh, ini semua satu jalur tidak dibenarkan orang kembali ke arah pulang melalui jalur arah pergi. Keluar dari terowongan perut gunung moaisim yang kedua, arah jalan sudah menuju jumroh dalam bangunan raksasa di lantai 3. Semua jamaah yang dari kemah kawasan di balik gunung moaisim perjalannya menuju jumroh pasti keluarnya di jumroh lantai 3,”ungkapnya.
Lalu, sambung dia, di jumroh lantai 3 ini untuk perlontaran hari pertama (27/6) pada tanggal 10 Zulhijjah maka yang dilontar hanyalah Jumroh Aqobah. Berarti Jumroh Ula dilewati, Jumroh Wustho dilewati dan ketemu Jumroh Aqobah barulah jamaah melontar.
“Jumroh Ula dan Wustho di hari pertama di pagar dan di kawal sejumlah aparat dengan pengawalan ketat. Agar jamaah yang manasik nya kurang mantap tidak salah dalam melontar,”sebutnya.
Saat ditanya suka duka dalam melontar Nurdin Amin mengaku hampir tidak ada.
“Suka duka saat melontar, sebenarnya hampir tidak ada, jika jamaah terbimbing langsung di area perlontaran. Karena sebagai pembimbing yang berpengalaman, dia akan membawa jamaah ke ujung Jumroh, disitu agak lega dan lapang. Sehingga tangan jamaah bisa memegang badan lingkaran jumroh, dengan begitu maka lontaran pasti tepat sasaran,”ungkapnya.
Ditambahkannya, adapun kebanyakan jamaah di biasanya berjubel di area badan jumroh yang dipangkal atau di tengah. Sehingga dalam keadaan berjubel di pangkal dan ditengah, maka area ujung badan jumroh tidak terlalu padat. Sehingga jamaah bisa memegang lingkaran badan jumroh untuk lebih memastikan perlontaran pasti sasaran.
Maka, hari kedua 11 Zulhijjah, jamaah diarahkan untuk melontar jam 16.30 sore, bakda Ashar.
“Setelah melontar kembali ke kemah, istirahat panjang. Sedangkan 12 Zulhijjah sudah di format, jamaah siap melontar pagi akan berangkat meninggalkan Mina jam 11.00 – 13.00 siang. Itu yang disebut sebagai Nafar Awal. Adapun yang mengambil Nafar Tsani, meninggalkan Mina pada tanggal 13 Zulhijjah selesai melontar pada tanggal 13 Zulhijjah itu
Ada Beberapa alasan mengapa plus minus Nafar Awal dan Nafar Tsani ini, kedua dibolehkan (QS Al Baqoroh 2:203).
“Dukanya, siap melontar nggak bisa duduk duduk untuk mejepas capek, padahal kita telah menempuh perjalananan sejauh lebih dari 4 km dan akan kembali ke kemah menempuh perjalanan pulang lebih dari 4 km. Perjalanan jauh dari kemah ke pelontaran dan kembali ke kemah harus dan mesti jalan kaki. Tidak ada gojek dan grab. Jika ada jamaah tidak mampu jalan ke pelontaran itu diwakilkan melontarkannya oleh jamaah,”pungkasnya.(m22)
Waspada/ist
Dr.HM Nurdin Amin berada di depan gunung dengan terowongan kedua dekat Jumroh, arah jalan kembali ke kemah.










