WASHINGTON (Waspada.id): Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghentikan seluruh kerja sama perdagangan dengan Spanyol.
Ancaman tersebut menyusul kebijakan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang tak mengizinkan Paman Sam menggunakan pangkalan militer bersama di Negeri Matador itu untuk perang dengan Iran.
AS bersama penjajah Zionis Israel, sejak Sabtu (28/2/2026) melancarkan agresinya ke Iran, yang hingga kini berujung pada perang terbuka sampai ke negara-negara kawasan di Timur Tengah (Timteng).
Kami (AS) akan menghentikan semua perdagangan dengan Spanyol,” kata Trump kepada wartawan saat sesi tanya jawab bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz, di Gedung Putih, Washington, AS, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (4/3/2026).
Trump menegaskan, penolakan pemerintahan di Madrid, atas penggunaan pangkalan militer bersama AS, di Spanyol merupakan bentuk pembangkangan atas kerja sama kedua negara itu.
Karena itu, kata Trump mengancam, AS merasa berhak untuk juga menutup hubungan dagang dengan Spanyol. “Kami tidak ingin punya hubungan dengan Spanyol,” begitu kata dia.
Pemerintah Spanyol sejak awal agresi Zionis-AS ke Iran, sudah menyatakan kecamannya. Spanyol mengatakan serangan itu melanggar hukum internasional, dan merusak perdamaian di kawasan dan mengancam perang besar secara global.
Pada Senin (2/3/2026) otoritas di Madrid menegaskan, tak bakal memberikan izin wilayahnya untuk dijadikan tempat bagi AS, maupun Israel untuk menjadi ‘papan’ tembakan misil atau rudal ke Iran.
Meskipun AS memiliki pangkalan militer bersama dengan Spanyol, di Rota yang berada di gerbang Selat Gibraltar, Laut Mediterania, namun pemerintahan Negeri Matador itu melarang Paman Sam menggunakannya.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menegaskan, pangkalan militer bersama AS tersebut, tetap menjadikan Madrid sebagai otoritas tertinggi pemegang kedaulatan wilayah.
Spanyol, kata Albares tak akan mengizinkan penggunaan wilayahnya untuk setiap aktivitas yang melanggar prinsip hukum internasional, dan yang tak sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Pangkalan kedaulatan Spanyol tidak akan digunakan untuk apapun yang tidak sesuai dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa,” ujar Albares.
“Meskipun pangkalan tersebut untuk penggunaan bersama dengan Amerika Serikat, Spanyol tetap memegang otoritas tertinggi,” ujar Albares.
Perang terbuka antara Zionis-AS dengan Iran dimulai sejak Sabtu (28/2/2026). Zionis dan Paman Sam membombardir Teheran yang berujung pada syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, termasuk para jenderal dan petinggi-petinggi militer Iran.
Penyerangan yang dilakukan AS-Israel, pun menyebar ke 24 provinsi di Iran. Sampai hari ketiga (3/3/2026) serangan yang dilakukan terhadap Iran, mencatatkan korban jiwa sedikitnya 750-an orang yang kebanyakan adalah warga sipil.
Republik Islam Iran bertahan atas serangan itu, dan melakukan perlawanan dengan membalas penyerangan ke wilayah pendudukan Israel. Serangan balasan dari Iran, juga dengan mengirimkan drone-drone penyerbu serta rudal-rudal berdaya ledak besar ke pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di wilayah Uni Emirates Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan juga di Arab Saudi.
Belakangan, negara-negara Arab yang wilayahnya dijadikan pangkalan militer AS untuk menyerang Iran, marah karena wilayahnya juga turut diserang Iran.(rep)












