Penulis: Citra Hutri Anggryani, S.Kep, Ns & Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS
(Program Studi Magister Ilmu Keperawatan F.Kep USU)
Setiap orang tua pasti pernah mengalami momen ketika si kecil menolak makan. Mulut tertutup rapat, kepala menggeleng, dan makanan hanya diaduk-aduk tanpa disentuh. Inilah yang sering disebut sebagai GTM (Gerakan Tutup Mulut)—fase yang cukup umum terjadi pada anak-anak, terutama di usia balita.
Sebagian orang tua merasa cemas dan panik, apalagi jika GTM berlangsung lebih dari beberapa hari. Kekhawatirannya wajar, karena asupan makanan yang terganggu bisa berdampak pada pertumbuhan, perkembangan otak, bahkan menyebabkan berat badan menurun. Namun, sebelum buru-buru membeli suplemen penambah nafsu makan di apotek, ada baiknya kita kembali melihat ke kekayaan tradisi leluhur kita. Indonesia dikenal dengan berbagai ramuan alami yang tak hanya aman, tapi juga sudah terbukti membantu mengatasi masalah susah makan pada anak.
Ramuan Tradisional Penambah Nafsu Makan
Salah satu bahan alami yang sangat dikenal dalam dunia pengobatan tradisional adalah temulawak. Tanaman rimpang ini telah digunakan secara turun-temurun sebagai penambah nafsu makan, terutama pada anak-anak.
Kandungan alami dalam temulawak, seperti kurkumin dan xanthorrhizol, terbukti mampu merangsang produksi empedu, memperbaiki fungsi pencernaan, dan meningkatkan nafsu makan secara alami. Caranya pun sederhana. Iris dua ruas temulawak, rebus dengan dua gelas air hingga tersisa satu gelas, tambahkan sedikit gulaaren agar rasanya lebih manis. Minuman ini bisa diberikan kepada anak satu hingga dua sendok makan setiap hari.
Selain temulawak, kencur juga bisa menjadi pilihan. Kencur memiliki efek menghangatkan tubuh dan cocok untuk anak yang mengalami perut kembung atau masuk angin ringan—dua kondisi yang sering kali membuat anak enggan makan. Air rebusan kencur yang dicampur madu bisa diberikan dalam jumlah kecil sebagai penambah rasa nyaman.
Tak kalah menarik, daun pegagan juga memiliki khasiat sebagai penambah nafsu makan sekaligus membantu daya konsentrasi anak. Daun ini bisa dijadikan campuran dalam jus buah atau makanan ringan yang disukai si kecil.
Penggunaan ramuan tradisional tetap harus disesuaikan dengan kondisi anak. Jika GTM berlangsung lebih dari seminggu atau disertai gejala lain seperti demam, diare, atau berat badan turun drastis, maka perlu dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.
Alam Sudah Menyediakan, Tinggal Kita Manfaatkan
Terkadang solusi terbaik untuk anak kita justru datang dari bahan-bahan alami yang tumbuh di sekitar rumah.
Kembali ke ramuan tradisional bukan berarti menolak pengobatan modern. Tapi ini adalah langkah bijak untuk memanfaatkan kekayaan alam yang telah lama diwariskan oleh nenek moyang kita. Dengan pendekatan yang tepat dan informasi yang benar, kita bisa membantu anak-anak melewati fase GTM tanpa harus memaksanya makan atau memberi obat yang belum tentu aman.
Mari rawat anak-anak kita dengan kasih sayang, kesabaran, dan pilihan alami yang sudah terbukti secara turun-temurun.













