JAKARTA (Waspada.id): BPJS Kesehatan meluncurkan empat inovasi layanan berbasis artificial intelligence (AI) untuk mempercepat layanan, meningkatkan akurasi klaim, serta memperluas akses peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Salah satu inovasi tersebut adalah Smart Integrated Solution Customer Assistant (SISCA) JKN, asisten layanan digital berbentuk avatar yang memberikan informasi dan respon awal kepada peserta melalui Aplikasi Mobile JKN.
Kehadiran SISCA JKN diharapkan memudahkan peserta dalam mengakses layanan tanpa harus datang langsung ke kantor cabang.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Ghufron Mukti mengatakan, pengembangan inovasi berbasis AI merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan peningkatan mutu layanan JKN. Menurutnya, pemanfaatan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia, melainkan memperkuat kinerja sumber daya manusia dalam pengelolaan Program JKN.
“Kami menyadari bahwa untuk memastikan mutu layanan, transformasi tidak dapat ditunda. Transformasi ini tidak hanya menyangkut regulasi dan tata kelola, tetapi juga cara memanfaatkan teknologi dan data sebagai fondasi pengambilan keputusan,” ujar Ghufron, Selasa (3/2/2026).
Ghufron menambahkan, transformasi digital menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas dan aksesibilitas layanan kepada peserta. Melalui interaksi digital di Aplikasi Mobile JKN, SISCA JKN diharapkan mampu memberikan pengalaman layanan yang lebih cepat dan responsif.
Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Edwin Aristiawan menjelaskan, selain SISCA JKN, BPJS Kesehatan juga mengembangkan tiga inovasi AI lainnya, yakni SmartClaim JKN, Smart Analytics, dan Smart Insight. Seluruh inovasi tersebut akan disempurnakan secara bertahap untuk meningkatkan akurasi, cakupan informasi, dan kualitas layanan.
Edwin menjelaskan, SmartClaim JKN merupakan sistem verifikasi klaim berbasis AI yang membantu mempercepat proses pemeriksaan awal klaim JKN. Sistem ini digunakan untuk mendukung otomasi proses administrasi dan verifikasi klaim yang selama ini bersifat manual dan clerical check.
“Dengan dukungan AI, verifikator dapat lebih fokus pada klaim atau area yang membutuhkan penelaahan lanjutan. Pada tahap awal implementasi, sistem ini masih memerlukan keterlibatan aktif verifikator dan akan terus dikembangkan secara bertahap,” jelasnya.
Ke depan, SmartClaim JKN diharapkan menjadi instrumen pendukung dalam meningkatkan pengawasan, akuntabilitas, serta mitigasi risiko kecurangan dalam penyelenggaraan Program JKN.
Sementara Smart Analytics dan Smart Insight dikembangkan untuk mempercepat analisis data dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data, baik pada level operasional maupun manajerial.
Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Abdul Kadir menilai, pemanfaatan AI mampu membuat proses verifikasi klaim dan pelayanan peserta menjadi lebih cepat dan presisi. Selain itu, teknologi ini juga membantu deteksi dini potensi kecurangan di fasilitas kesehatan.
“Dengan AI, pekerjaan verifikasi klaim bisa dilakukan lebih singkat dan akurat. Dalam pelayanan, peserta juga tidak perlu lagi datang ke kantor cabang hanya untuk mendapatkan informasi karena dapat dilayani secara digital,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar. Ia menyambut baik kehadiran SISCA JKN dan berbagai inovasi digital BPJS Kesehatan yang dinilai semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan JKN.
“Ini memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan dan informasi. Harapannya, inovasi ini terus dikembangkan seiring bertambahnya peserta JKN, sehingga kualitas pelayanan juga semakin meningkat,” katanya.

















