Oleh Syafrizal ZA
Ada satu kesalahpahaman besar dalam cara manusia memandang kekuatan. Kita sering mengira kekuatan selalu identik dengan perlawanan, suara keras, atau kemampuan menundukkan.
Padahal, dalam banyak hal, kehidupan justru bertahan karena sikap sebaliknya: ketenangan, kesabaran dan kemampuan menahan diri.
Sebagaimana manusia memperlakukan bumi, tanah digarap, dicangkul, bahkan dirusak, namun dari sanalah kehidupan terus tumbuh. Bukan karena bumi lemah, melainkan karena ia memiliki keteguhan yang tidak reaktif. Dari situ, kita bisa belajar bahwa tidak semua luka harus dibalas, tidak semua tekanan menuntut perlawanan.
Hal yang sama berlaku pada cara kita mengelola emosi. Amarah sering muncul sebagai respons paling cepat, tetapi jarang menjadi jawaban paling bijak. Emosi yang dibiarkan meluap, justru menghabiskan energi, merusak relasi dan menutup kejernihan berpikir. Kesejukan batin bukan berarti kehilangan sikap tegas, melainkan kemampuan memilih reaksi dengan sadar.
Dalam diri manusia, selalu ada dorongan untuk bergerak, membakar dan menaklukkan. Dorongan ini penting. Tanpanya, hidup kehilangan arah dan daya juang.
Namun, ketika dorongan itu dibiarkan tanpa kendali, ia berubah menjadi ambisi yang merusak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Masalahnya bukan pada adanya dorongan itu, melainkan pada ketidakseimbangannya.
Kematangan hidup tidak lahir dari mematikan sisi keras dalam diri, tetapi dari mengaturnya. Ada saatnya seseorang perlu tegas, ada saatnya ia perlu menahan diri. Ada waktu untuk bergerak cepat, ada waktu untuk diam dan menunggu. Ketika semua itu hadir dalam porsi yang tepat, kehidupan berjalan lebih utuh dan bermakna.
Sering kali manusia gagal bukan karena kurang kuat, tetapi karena tidak tahu kapan harus berhenti. Tidak tahu kapan harus mendengar. Tidak tahu kapan harus mengalah demi sesuatu yang lebih besar. Dalam kondisi seperti itu, kekuatan justru berubah menjadi beban.
Mungkin yang kita butuhkan bukan tambahan energi, melainkan kesadaran. Kesadaran bahwa hidup bukan ajang pembuktian tanpa henti, melainkan proses menata diri, agar tidak dikuasai oleh dorongan-dorongan yang kita ciptakan sendiri.
Pada akhirnya, hidup yang sehat bukan hidup yang bebas dari konflik, tetapi hidup yang mampu menjaga keseimbangan di tengah konflik. Di situlah manusia benar-benar menjadi manusia, yang mampu bertindak tanpa kehilangan nurani, dan mampu menahan diri tanpa kehilangan arah.
Penulis adalah Wartawan Harian Waspada dan Waspada.id Wilayah Aceh Barat Daya.











