PENGANTAR REDAKSI: Agusni AH biasa dikenal sebagai penyair yang berganre kosmik dari Aceh, kali ini menulis puisi trilogi tentang Relau, Tungku Waktu dan Halte sebagai simbol perjalanan anak manusia khusus tayang di waspada.id
RELAU MENATIH DI TANAH LETIH
Aku di semak-semak relau, menapak kaki di tanjakan sunyi, di keterengahan panjang langkahku menatih, gayutkan pada tanah cadas yang letih
Aku tidak lagi gentar pada jalan terjal,
sebab setiap luka di telapak kaki
adalah huruf-huruf takdir
yang sedang dituliskan pada tubuhku, dan aku sendiri mengeja kata demi kata, sampai akhirnya aku paham sebuah makna dari apa yang mendera…//(a.ah).
TUNGKU WAKTU
Di tungku peradaban,
waktu menanak kita, dengan nyala yang panas
menghanguskan rasa
Kita terlanjur gosong oleh bara durja, dari bahan yang tak pernah memilih untuk saji, dan kita adalah takdir yang beraduk di bejana
Sampai akhirnya siapa yang memapah nasib nan menenunnya, jika kemudian kita terperangkap diam dalam lamun panjang yang tiada akhirnya,
hingga berani memerontak pada api yang sejak awal dititipkan untuk mematangkan jiwa…//(a.ah).
HALTE
Kita hanya menyinggah—
dalam kerumunan yang berpeluh
wajah-wajah yang tak sempat kita hafal,
nama-nama yang tak sempat kita catat, datang silih berganti sebelum semuanya kembali
Kita hanya menyinggah—
dalam kerumunan yang berpeluh,
lalu pergi sebagai penumpang yang tak membawa duniawi…//(a.ah).










