MEDAN (Waspada.id): Ketua Umum DPP Poros Muda Sumatera Utara (PORSU), Andi Armadani Sembiring, SE, mendorong pemerintah Indonesia untuk menginisiasi investigasi internasional terkait gugurnya 3 prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Medan, Rabu (1/4), Andi menyampaikan duka cita mendalam atas insiden tragis tersebut.
Ia juga menyinggung pernyataan Menteri Luar Negeri, Sugiono, yang telah lebih dulu menyampaikan belasungkawa atas gugurnya prajurit TNI akibat serangan yang diduga dilakukan oleh Israel di wilayah Lebanon.
Menurut Andi, keberadaan pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon memiliki mandat dan tugas pokok yang jelas berdasarkan kesepakatan internasional.
Antara lain pendampingan militer Lebanon, menjaga zona bebas senjata, memastikan akses kemanusiaan, melakukan patroli dan pelaporan, serta perlindungan warga sipil.
Dengan demikian, serangan terhadap markas UNIFIL dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan konflik di El Salvador yang berlangsung dari 1980 hingga 1992.
Dalam konflik tersebut, pasukan perdamaian United Nations Observer Mission in El Salvador (ONUSAL) mampu menjalankan fungsinya hingga tercapainya Perjanjian Perdamaian Chapultepec tanpa adanya serangan terhadap pasukan PBB.
“Artinya, dalam kondisi konflik sekalipun, keberadaan pasukan perdamaian PBB tetap dihormati dan diperhitungkan demi terciptanya perdamaian,” ujar Andi.
Lebih lanjut, Andi menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian dunia tidak berada dalam situasi yang sepenuhnya aman, meskipun berada di bawah mandat internasional.
Ia menilai, selama ini kehadiran Indonesia kerap dipandang hanya sebagai simbol diplomasi, padahal memiliki risiko nyata di lapangan.
Karena itu, PORSU mendesak pemerintah untuk mengambil langkah strategis dengan meminta pertanggungjawaban komunitas internasional atas serangan terhadap pasukan United Nations Interim Force in Lebanon yang menyebabkan prajurit Indonesia gugur.
Andi juga menegaskan bahwa pemerintah Indonesia perlu membawa persoalan ini ke forum resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa guna mendorong pembentukan tim investigasi independen yang transparan dan akuntabel.
Menurutnya, langkah ini penting agar ada kejelasan hukum serta jaminan perlindungan bagi seluruh personel penjaga perdamaian di wilayah konflik.
Selain itu, ia meminta agar evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan pasukan perdamaian dilakukan, termasuk memperkuat koordinasi antarnegara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Jangan sampai kejadian serupa terulang. Keselamatan prajurit yang membawa misi kemanusiaan harus menjadi prioritas utama dunia internasional,” tegasnya.
Diberitakan sebanyak tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon dilaporkan gugur akibat serangan artileri militer Israel pada akhir Maret 2026. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik di wilayah Lebanon Selatan. (id101/rel)










