Medan

Almarhum Jaya Arjuna: “Intelektual Organik” Yang Menjaga Akal Sehat Kota Medan

Almarhum Jaya Arjuna: “Intelektual Organik” Yang Menjaga Akal Sehat Kota Medan
Kecil Besar
14px

Kabar duka menggema di lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU) dan komunitas pegiat lingkungan Medan pada awal Januari 2026. Almarhum Jaya Arjuna, alumni Teknik Mesin USU angkatan 1974 yang dijuluki “Intelektual Organik”, telah kembali ke Rahmatullah tanpa menunjukkan gejala sakit sebelumnya.

Dikenal dengan gaya khas “Anak Medan Bung!”—bertopi baret ala pelukis legendaris Pak Tino Sidin—kelahiran Bukittinggi, 7 Oktober 1953, ini tidak hanya berkutat di ruang kelas. Ia memilih perjuangan lapangan, menjunjung tinggi kebenaran ketimbang popularitas atau keuntungan materi.

Di Forum Penyelamat USU (FP-USU), nama beliau menjadi simbol integritas. Ia pernah tegas menyebut proyek kolam retensi kampus sebagai “akal-akalan”, dengan argumen yang lugas: “Kalau solusinya nggak sentuh akar masalah, itu cuma mindahin banjir, bukan nyelesaiin.” Bukti nyata, hingga kini Jalan Dr. Mansyur masih sering tergenang air.

Dunia sastra juga mengenalnya sebagai penulis produktif. Sejak cerpen pertamanya terbit di harian Mimbar Umum tahun 1973 dengan nama pena D.Ar.D Makewa, karya-karyanya—puisi, cerpen, naskah drama panggung, hingga sandiwara radio—terus mengalir. Naskah dramanya “Telah Gugur Hati Manusia” bahkan meraih Juara II Festival Drama KNPI tahun 1976.

Pada 2010, beliau diundang sebagai pembicara di Asia Culture Forum Gwangju, Korea Selatan, dengan makalah berjudul “The Harmony of Economic Development Through Cultural Roots Strengthening”. Tahun 2024 lalu, ia menerima penghargaan khusus Sastrawan 50 Tahun Berkarya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Selama hidupnya, Bang Jaya juga menulis sejumlah buku antara lain Ulok, Medan Banjir Bebas Di Mana-mana, dan Pedoman Permainan Trup Gembira. Pasca wafatnya, teman-temannya mengungkap di rumah Bang Zahrin bahwa beliau pernah mengusulkan solusi drainase dan penanggulangan banjir Medan dengan anggaran hanya Rp350 miliar—cukup jika dikerjakan dengan kejujuran, namun dianggap “kecil” oleh pihak yang lebih mengutamakan skala proyek besar.

“Sains itu buat nyelamatin orang banyak, bukan buat nutupi kebijakan yang mencong,” demikian prinsip yang selalu dipegangnya.

Bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan instruktur Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Medan masa awal berdiri, Bang Jaya adalah teladan rendah hati yang membentuk karakter banyak aktivis. Ia sering menekankan: “Kampus itu harusnya hidup dengan orang-orang yang berani bilang ‘salah’ kalau memang salah, bukan cuma jadi stempel kekuasaan.”

Selamat jalan, Bang Jaya Arjuna. Sosok yang telah menunjukkan bahwa berani bersuara benar adalah bentuk ibadah sosial. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan menjemputnya ke surga yang luas. (*)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE