Medan

Anggot DPRD Sumut Rudi Alfahri Rangkuti Minta Antisipasi Dampak Konflik Timteng Terhadap Pariwisata

Anggot DPRD Sumut Rudi Alfahri Rangkuti Minta Antisipasi Dampak Konflik Timteng Terhadap Pariwisata
Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Rudi Alfahri Rangkuti. Waspada.id/ist
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id) – Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Rudi Alfahri Rangkuti, meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mengantisipasi dampak konflik di kawasan Timur Tengah (Timteng) terhadap sektor pariwisata, khususnya potensi penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke destinasi seperti Danau Toba.

“Konflik Timur Tengah bisa berdampak pada penurunan wisman, bahkan pembatalan penerbangan. Pemprovsu harus cepat membaca situasi dan menyiapkan langkah konkret,” kata Rudi kepada Waspada.id, Selasa (7/6).

Ia mengatakan, dinamika geopolitik global berpotensi memengaruhi mobilitas wisatawan asing, baik secara langsung maupun melalui gangguan konektivitas penerbangan internasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, jumlah kunjungan wisman sepanjang 2024 tercatat 250.413 kunjungan. Pada Januari–Mei 2025, kunjungan mencapai 109.625 atau naik 8,39 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, pada Februari 2026 jumlah wisman tercatat 24.851 kunjungan, meningkat 10,04 persen dibanding Januari. Secara kumulatif Januari–Februari 2026, jumlah kunjungan mencapai 47.434 atau naik 2,85 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.

Rudi menyebut, meski wisatawan asal Timur Tengah belum masuk 10 besar kunjungan ke Sumut, potensi dampaknya tetap ada karena karakter wisatawan dari kawasan tersebut memiliki tingkat belanja tinggi dan lama tinggal lebih panjang.

Selain faktor global, ia juga menyoroti persoalan infrastruktur dan aksesibilitas menuju destinasi wisata serta sumber daya manusia yang handal dalam melayani wisatawan yang berkunjung termasuk di Danau Toba.

Ia mengaku sempat mengalami kemacetan panjang menuju kawasan Danau Toba, dengan waktu tempuh lebih dari 10 jam dari Simpang Pane menuju Parapat.

“Ini menjadi catatan karena sangat memengaruhi kenyamanan wisatawan,” ujarnya.

Rudi menceritakan, dirinya terjebak antrean kendaraan yang mengular sejak kawasan Simpang Pane, Kabupaten Simalungun, hingga mendekati Parapat. Volume kendaraan yang meningkat tanpa diimbangi rekayasa lalu lintas yang optimal membuat perjalanan nyaris tidak bergerak selama berjam-jam.

Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya merugikan wisatawan dari sisi waktu, tetapi juga berpotensi menurunkan citra pariwisata daerah. Menurutnya, pengalaman buruk di perjalanan bisa menjadi faktor yang membuat wisatawan enggan kembali berkunjung ke Danau Toba.

Rudi mengapresiasi pengoperasian fungsional ruas Tol Sinaksak–Simpang Panei sejak Maret 2026 yang dinilai membantu mempercepat akses ke kawasan wisata.

Ia mendorong pemerintah melakukan diversifikasi pasar wisatawan dan mencari pasar wisata alternatif, dengan memperkuat promosi ke negara Asia serta mengoptimalkan wisatawan domestik. Selain itu, promosi digital dan koordinasi dengan maskapai juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata.

“Keamanan dan kenyamanan harus jadi prioritas. Evaluasi target kunjungan juga perlu dilakukan agar strategi tetap adaptif,” katanya. (id127)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE