Anggota DPRD Sumut Ahmad Darwis: Deteksi Dini Bullying Di Sekolah

  • Bagikan
ANGGOTA DPRD Sumut  Ahmad Darwis. Waspada/ist
ANGGOTA DPRD Sumut  Ahmad Darwis. Waspada/ist

MEDAN (Waspada):  Anggota DPRD Sumut  Ahmad Darwis (foto) berharap kepada para guru untuk melakukan deteksi dini terhadap perundungan (bullying) yang sering dialami anak didik di sekolah maupun di rumah.

“Sebagai  guru, tugas kita tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga harus peka dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh siswa, terkait perbuatan bullying yang akhir-akhir ini meresahkan kita,” kata Darwis kepada Waspada di Medan, Minggu (3/12).

Anggota dewan Fraksi PKS Dapil Sumut 2 (Medan Johor, Medan Polonia, Medan Maimun, Medan Petisah, Medan Barat, Medan Helvetia, Medan Sunggal, Medan Selayang, Medan Tuntungan, Medan Baru) ini merespon berbagai kasus bullying, termasuk yang  terjadi di MAN 1 Medan, belum lama ini.

Yakni siswa yang baik di-bully oleh temannya dengan perbuatan yang sangat keji dan tidak manusiawi, sehingga berdampak pada kondisi siswa dan keluarga merasa tidak nyaman untuk hadir ke sekolah.

“Kita prihatin, padahal kondisi pendidikan di Sumut, khususnya di Kota Medan harus dapat menciptakan kondisi yang damai, sehinggga tidak lagi hanya sebagai penyampai informasi,  namun juga harus bisa membimbing siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan kemampuan sosialnya,” ujar bakal calon legislatif DPRD Sumut Fraksi PKS Dapil Sumut 2 No urut 3 ini.

Menurut Ahmad, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan  mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan  formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Sehingga, pada proses pembelajaran berlangsung guru memiliki peranan  yang sangat penting untuk membentuk proses pembelajaran yang nilai-nilai  pengetahuan dan sikap dapat tersampaikan secara benar.

Karenanya, perlu berbagai langkah pencegahan perilaku bullying di lingkungan sekolah, dengan menerapkan konsep peaceful school atau sekolah  yang damai. Konsep peaceful school diintegrasikan dengan nilai-nilai  yang terkandung dalam mata pelajaran guna mencegah bullying di sekolah.

Hapuskan Bibit Bullying

Ahmad Darwis berharap jangan sampai hal-hal yang menyebabkan siswa tidak nyaman atau bahkan membahayakan siswa terjadi secara terus menerus.  

“Segera hapuskan bibit-bibit bullying sedini mungkin, seperti tidak memanggil nama siswa dengan nama ayahnya, menghina bentuk fisik, merampas benda-benda, atau menyakiti secara fisik.

Kemudian, memberikan sosialisasi terkait pem-bully-an yang terjadi di sekolah yang sering menjadi bahan pemberitaan, baik di media sosial maupun media-media lainnya.

Jika semua orang memahami bentuk-bentuk perundungan, maka akan lebih mudah untuk meminimalisir potensi bullying di sekolah.

Tak kalah pentingnya adalah ikut memberikan dukungan pada korban bullying, karena korban biasanya merasakan ketakutan, kemudian melawan bullying dengan berani melaporkan tindakan tersebut kepada aparat berwajib. 

Dengan begitu, guru dan pihak sekolah akan dapat segera mengambil tindakan untuk menghentikan pem-bully-an dan kemudian berharap ada peraturan yang tegas tentang bullying dan memberikan teladan atau contoh yang baik. 

“Karena bullying pada anak sering terjadi karena mencontoh orang-orang di sekitarnya. Dan sebagai guru, maka guru pintar harus berhati-hati dalam bertindak maupun bertutur kata,” pungkasnya. (cpb)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *