MEDAN (Waspada): Edukasi tentang penyakit diabetes melitus (DM) terus gencar dilakukan di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Ini selain mereka merupakan garda terdepan dapat mensosialisasikan pencegahan kepada masyarakat, mereka juga dinilai rentan menderita penyakit diabetes.
Hal ini dikatakan oleh Dr Syarifuddin Ritonga, M.AP, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Medan Area pada Workshop komunikasi terapeutik dengan tema mencegah dan melawan diabetes di tengah pandemi Covid-19 di Aula kantor Camat Medan Polonia kemarin.
Dikatakannya, dari 60 sampel peserta yang melakukan pengecekan darah terdeteksi 2 orang mengalami diabetes melitus ini.
“Untuk itulah edukasi ini penting bagi kalangan ASN dan jajaran di Kecamatan. Tadi kita ambil sampel 60 orang, terdapat 2 terdeteksi diabetes. Kita tekankan untuk mengatasi diabetes ini yang terpenting itu adalah menjaga pola makan yaitu 3 J, jenis makan, jumlah makan dan jadwal makan. Apalagi mereka sebagai ASN harus menjaga pola makannya. Mengubah perilaku ini memang sangat susah, ditambah lagi di Medan ini ada 2 rasa makanan yaitu enak dan enak sekali. Inilah pemicunya diabetes,” tegasnya saat diwawancarai Waspada pada Rabu Kemarin.
Dikatakannya, saat ini Indonesia urutan ke 5 terbesar di dunia. Apabila tidak jemput bola ke masyarakat maka ini diprediksinya akan bergeser menjadi ranking 1 dunia terbesar terbanyak penderita diabetesnya.
“Sehingga perlu edukasi. Salah satunya juga kita tekankan tadi kepada ASN yaitu 5 pilar pengobatan diabetes. Kenapa perlu ini, karena hampir 50 persen masyarakat kita tidak tau dia terkena diabetes. Setelah ada komplikasi baru tau dia ada diabetes sehingga penangannnya sudah terlambat. Makanya kita jemput bola,” ucapnya.
Katanya, ia berharap seluruh peserta yang hadir menjadi garda terdepan dilapangan, merekalah yang menghalo- halokan ini di masyarakatnya. Minimal untuk keluarganya.
Jadi jika ada yang sudah terkena diabetes jadilah dia dokter bagi dirinya sendiri, bagaimana pencegahan, penanganannya.
“Dokter diabetes di Medan masih kurang. Karena memang dokter diabetes khusus endokrin masih sedikit tidak sebanding dengan jumlah pasien,” katanya. Ia berharap pemerintah Kota Medan saat ini dapat meningkatkan layanan kesehatan bagi penderita diabetes baik di rumah sakit maupun faskes-faskes lainnya seperti puskesmas.
Camat Medan Polonia, M Husnul Hafiz Rambe mengucapkan terimakasih atas edukasi yang telah diberikan kepada jajarannya.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada Persadia, yang telah memberikan materi diabetes melitus yang kita ketahui ini penyakit yang berbahaya baik di Indonesia dan dunia. Pengaruhnya sangat banyak sekali dengan pemerintah khususnya di lingkungan Kecamatan Medan polonia. Karena penyakit ini kebanyakan belum bisa terdeteksi. Dengan adanya materi ini kami jadi tau mengetahui secara dini mencegah dan mengenali penyakit ini sehingga lebih cepat ditanggulangi. Seperti tadi, kita baru tau bahwa satu hari konsumsi makanana harus 1800 kalori bagi yang normal dan 1600 kalori untuk penderita DM. Dengan adanya wawasan ini kita lebih pada pencegahan dini,” tandasnya. (cbud)











