Diapresiasi, Unesco Masukkan Buka Puasa Warisan Budaya Takbenda

  • Bagikan
Pimpinan KBIHU Al Marwa yang juga Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Al Marwa Medan, Dr HM Nurdin Amin. Waspada/Ist
Pimpinan KBIHU Al Marwa yang juga Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Al Marwa Medan, Dr HM Nurdin Amin. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Pimpinan KBIHU Al Marwa yang juga Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Al Marwa Medan, Dr HM Nurdin Amin (foto) Jumat (8/12) mengapresiasi UNESCO yang memasukkan Buka Puasa Warisan Budaya Takbenda.

“Ya, kita sangat mengapresiasi hal itu, sebab budaya buka puasa bersama kegiatan yang meningkatkan silaturahmi,”kata HM Nurdin.

Nurdin mencontohkan, suasana berbuka puasa di Masjid Nabawi dan di Masjid Haram Makkah, suasananya begitu membahagiakan. Ada orang yang bersedekah buka puasa, menugaskan dua atau tiga orang mempersiapkannya di dalam Masjid, sehingga selesai berbuka bisa cepat tanggap menyelesaikan nya pula, agar orang orang bisa siap untuk shalat tanpa gangguan teknis.

Sedangkan sebelum berbuka puasa, ada pula yang bertugas di halaman masjid untuk menggiring jamaah agar datang ke lokasi hidangan yang mereka siapkan. Hal itu disebabkan banyak sekali lokasi lokasi untuk buka di dalam masjid yang dilakukan oleh orang orang yang bersedekah.

Sedangkan di Mesir, lanjut Nurdin Amin, selain di dalam Masjid, juga biasa dilakukan diberbagai tempat, sehingga kita tidak pernah khawatir saya agan berbuka puasa dimana.

“Dulu saat saya di Mesir, saat kita naik kereta api dan waktunya buka puasa, kereta api pun bisa berhenti untuk buka puasa di halte yang ada disiapkan para dermawan sedekah makanan untuk berbuka puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW,” sebutnya.

Sedangkan Di Sudan, lanjutnya,saat berbuka puasa, orang orang bentang tikar di halaman rumahnya masing masing membawa makanan keluar rumah duduk bersama dalam keakraban silaturrahmi yang sangat berkesan.

Sebelumnya, Badan kebudayaan PBB yaitu UNESCO pada Rabu (6/12) memasukkan buka puasa saat bulan suci Ramadhan dalam daftar warisan budaya takbenda. Iran, Turkiye, Azerbaijan, dan Uzbekistan bersama-sama mengajukan buka puasa masuk ke daftar UNESCO tersebut.

“Buka puasa (juga disebut Eftari atau Iftar) diperingati umat Islam saat matahari terbenam di bulan Ramadhan, setelah selesainya semua rangkaian ibadah keagamaan,” kata UNESCO, dikutip dari kantor berita AFP.

Buka puasa setelah azan magrib dikaitkan dengan pertemuan yang memperkuat ikatan keluarga dan komunitas, serta mempromosikan amal, solidaritas, juga pertukaran sosial, lanjutnya.(m22)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *