# Akses Terbatas Jadi Hambatan Utama
MEDAN (Waspada.id): Di tengah banyaknya laporan masyarakat mengenai lambannya bantuan kesehatan dan minimnya stok obat di sejumlah posko banjir, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara memberikan penjelasan terkait kondisi terkini penanganan kesehatan di wilayah terdampak bencana, terutama Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.
Sejak Jumat (28/11), Dinkes Sumut telah mengirimkan Tim Medis khusus melalui jalur udara Lanud Soewondo, dipimpin langsung Kepala Dinas Kesehatan Sumut, HM Faisal Hasrimy. Tim tersebut terdiri dari dua dokter dan dua perawat, sekaligus membawa pasokan obat-obatan prioritas untuk penanganan darurat di lokasi.
Tim medis yang tiba di Tapteng dan Sibolga langsung beroperasi secara mobile, menjangkau titik-titik pengungsian dan permukiman terdampak yang sebelumnya terisolasi akibat akses jalan yang rusak dan tertutup longsor.
Pada 29 November 2025, Dinkes Sumut kembali menambah pengiriman bantuan melalui jalur udara berupa obat-obatan tambahan, tabung oksigen, serta dua tenaga perawat tambahan.
Akses Baru Terbuka, Mobilisasi Masih Terbatas
Menanggapi isu bahwa tim medis belum menjangkau seluruh lokasi bencana, Dinkes Sumut menjelaskan bahwa hambatan utama yang terjadi adalah akses darat yang baru terbuka sebagian dan masih sangat terbatas, terutama menuju kantong-kantong pengungsi di wilayah yang sebelumnya terputus total.
“Dengan kondisi akses yang baru terbuka dan terbatas, mobilisasi menjadi tidak bisa secepat normal. Namun dengan sumber daya yang ada, kami bersama Dinkes kab/kota terus berupaya maksimal memberikan pelayanan,” jelas Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Hamid Rijal pada Sabtu (29/11).
Terkait Isu Minimnya Obat dan Posko
Dinkes Sumut juga menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai menipisnya obat-obatan dan minimnya posko layanan kesehatan.
Menurut laporan, pasokan obat terus dikirimkan secara bertahap—terutama melalui jalur udara—sementara pendirian posko kesehatan dilakukan bekerja sama dengan Dinkes kabupaten/kota dan fasilitas kesehatan setempat.
Saat ditanya mengenai anggapan bahwa respons Dinkes Sumut lamban, pihak dinas menegaskan bahwa keterlambatan terutama disebabkan oleh:
Putusnya akses jalan menuju beberapa daerah terdampak.
Cuaca ekstrem yang membatasi penerbangan dan mobilisasi tim.
Komunikasi lapangan yang sempat tidak stabil sehingga laporan dari tim medis sulit diterima secara real-time.
Distribusi logistik yang harus diprioritaskan melalui jalur udara sehingga pengiriman dilakukan bertahap.
Kondisi ini juga memunculkan keresahan masyarakat yang memicu tindakan penjarahan di beberapa gerai ritel akibat keterlambatan bantuan. Dinkes Sumut memastikan upaya percepatan tengah dilakukan bersama lintas sektor untuk mencegah memburuknya situasi.
Dinkes Sumut menegaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan di provinsi dan kabupaten/kota siaga penuh, dan komunikasi dengan tim di lapangan saat ini sudah mulai membaik seiring akses yang perlahan terbuka kembali.
“Kami mohon doa dan dukungan agar seluruh proses penanganan ini dapat berjalan lancar dan masyarakat terdampak mendapatkan layanan kesehatan secepat-cepatnya,” tutup Hamid Rijal. (id20)












