MEDAN (Waspada.id): Direktur Utama (Dirut) PUD Pasar Kota Medan Anggia Ramadhan, SE, M.Si, beserta jajarannya pasca dilantik baru-baru ini langsung melakukan peninjauan ke sejumlah pasar tradisional di Kota Medan.
Di antaranya Pusat Pasar, Sukaramai, Pasar Akik, Kampung Lalang, Pasar Sentosa, Pasar Bakti, Pasar Halat, Pasar Sukabumi, dan Pajak Timah. Peninjauan ini dilakukan untuk melihat langsung kondisi fasilitas pasar serta tingkat kunjungan pembeli yang belakangan dinilai cenderung sepi.
Anggia menyampaikan, menurunnya jumlah pembeli di pasar tradisional dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah persaingan dengan pasar modern dan perkembangan e-commerce yang semakin diminati masyarakat.
“Yang kita lihat ada banyak faktor kenapa pasar sepi, mulai dari persaingan dengan pasar modern hingga e-commerce. Ini yang harus kita pikirkan bersama agar pasar tradisional di Medan bisa maju dan kembali ramai pembeli,” ujar Anggia pada Rabu (21/1)
Selain persoalan persaingan, ia juga menyoroti kondisi fasilitas pasar yang di sejumlah lokasi sudah tidak layak dan membutuhkan perbaikan. Menurutnya, hal tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus segera dibenahi.
“Banyak PR kita. Kita menginginkan pasar-pasar di Kota Medan menjadi pasar yang bersih dan profesional,” tegasnya.
Tak hanya itu, persoalan pedagang kaki lima (PKL) juga menjadi perhatian serius PUD Pasar. Anggia mengungkapkan, pihaknya berencana berdiskusi dengan Wali Kota Medan untuk membahas penataan PKL agar dapat kembali masuk dan berjualan di dalam pasar.
“Persoalan PKL ini memang bukan masalah baru. Namun kita akan lakukan kajian untuk mengetahui apa sebenarnya permasalahannya. Apakah kondisi di dalam pasar yang kurang layak atau fasilitas yang tidak memadai,” jelasnya.
Menurut Anggia, pasar merupakan wajah Kota Medan. Jika pasar bersih dan tertata, maka citra kota juga akan terlihat baik. Namun ia menegaskan, pembenahan pasar tidak bisa hanya dibebankan kepada PUD Pasar semata.
“Semua akan kita benahi, tapi ini tidak bisa dibebankan hanya kepada PUD Pasar. Semua pihak harus terlibat, termasuk SDM di pasar yang saat ini juga terbatas,” katanya.
Dalam waktu dekat, PUD Pasar Medan akan memaparkan kondisi eksisting dan permasalahan pasar kepada Wali Kota Medan, sekaligus menyampaikan hal-hal yang dapat dibantu oleh pemerintah kota.
Selain mengandalkan dukungan pemerintah, Anggia juga membuka peluang kerja sama dengan investor, termasuk perbankan dan pihak swasta, untuk membangun pasar dari sisi ekosistem ekonomi, bukan sekadar bantuan modal.
“Kita akan mencari investor seperti perbankan. Jadi pasar kita bangun dari ekosistem ekonominya. Kalau ekosistemnya hidup dan melibatkan perbankan, keuangan, atau swasta, pasar akan berkembang,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, PUD Pasar berencana membuat pasar percontohan, seperti konsep Pasar Bank Sumut yang akan dimulai dari Pasar Petisah. Pasar tersebut nantinya dikemas sebagai sentra UMKM dan ruang kreatif, lengkap dengan tempat ngopi dan ruang bagi anak muda, seperti konsep pasar modern yang sudah diterapkan di Kota Bandung.
“Ini memang butuh proses dan kajian, tapi potensinya besar karena Pasar Petisah berada di tengah kota,” kata Anggia.
Sementara itu, untuk Pasar Aksara, PUD Pasar berencana mengembangkannya dengan konsep seperti Pajus atau Pajak USU, yang fokus menjual aksesoris, handphone, serta perlengkapan kuliah, mengingat lokasinya yang dekat dengan kawasan perkampusan.
Dengan berbagai langkah tersebut, Anggia berharap pasar tradisional di Kota Medan dapat kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, sekaligus ruang publik yang bersih, nyaman, dan berdaya saing. (id23)










