Pembangunan Infrastruktur Di Sumut Terkesan Ugal-ugalan

  • Bagikan
Pembangunan Infrastruktur Di Sumut Terkesan Ugal-ugalan

MEDAN (Waspada): Carut-marut pembangunan infrastruktur dan konstruksi di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan, mendapat reaksi keras dari kalangan penggiat kosntruksi.

Semua pembangunan yang sedang berjalan saat sekarang ini dinilai menyalahi aturan atau kaidah kelaziman yang baik. Hal ini disampaikan pengamat infrastruktur dan konstruksi Sumatera Utara, Erikson Lumban Tobing kepada wartawan pada Selasa (26/12) di Medan.

Menurutnya, yang dimaksud dengan menyalahi kaidah kelaziman yang baik itu, setiap pekerjaan-pekerjaan infrastruktur dan konstruksi itu, semua berawal dari perencanaannya dulu, kemudian di pelaksanaan itu ada persiapan.

““Setiap pekerjaan infrastruktur dan konstruksi, diawali dengan sebuah perencanaan, lalu di pelaksanaannya ada persiapan-persiapan. Jadi, tidak main hantam kromo saja. Harus juga dipikirkan dampak lingkungannya terhadap masyarakat luas itu ada perhitungan-perhitungannya dan inilah kita lihat yang dilanggar oleh penyedia jasa dan pengguna jasa (pemerintah dan kontraktor),” terang Erikson.

Selain itu, lanjut Erikson yang juga mantan Ketum Gapeksindo Sumatera Utara ini, akibat dari pekerjaan hantam kromo itu, tentulah setelah dikerjakan hasilnya nampak.

”Namanya uang bertriliun-trilunan digelontorkan, waktu mengerjakan bahu jalan misalnya, waktu selesai memang cantik. Tapi, waktu pengerjaannya sudah melanggar kaidah kelaziman. Inilah menjadi persoalan. Contohnya di Medan, dihantam dengan pembangunan drainase di sana-sini. Namun, tidak ada memikirkan dampak lingkungan dan masyarakat sekitarnya, sehingga menimbulkan kemacetan di mana-mana,” terangnya.

Lebih tegas Erikson mengatakan, pengerjaan yang dilaksanakan Pemko Medan, terkesan semau gue alias ugal-ugalan. Merasa memang memiliki punya anggaran, kayak mereka merasa berhak. Padahal, semuanya itu ada ketentuan-ketentuan dan ada peraturan-peraturannya.

“Itulah yang tidak beres, drainase digali sembarangan, tanpa waktu yang jelas, untuk pemasangannya dan konstruksinya juga, sangat miris kita melihatnya. Apakah ini sudah teruji atau belum. U-ditch dipasang ditutup dengan plat betonnya, sudah diuji belum,” tegasnya.

Lanjutnya, “Kita juga tidak mau merasa kita di pihak paling benar yang hanya bisa protes tanpa alasan. Yang menjadi persoalannya, ini masyarakat Kota Medan sudah pada mengeluh dengan pekerjaan-pekerjaan di Kota Medan dan Sumatera Utara ini. Jadi, yang perlu kita persoalkan dari hilir sampai ke hulunya.”

“Dari tendernya sampai pelaksanaannya kalau kita lacak semuanya bermasalah. Bagaimana pelaksanaannya tak bermasalah, kalau itulah kalau saya berpendapat, ini semua kembali kepada manusianya dan moralnya. Kalau teknisnya tidak ada masalah, semua sudah ada aturannya. Jadi, tidak menjelek-jelekkan siapa-siapa, semuanya bisa kita lihat dengan mata telanjang kita, apakah pekerjaan infrastruktur, baik itu di Kota Medan maupun Sumatera Utara memenuhi kaidah lazim dan baik atau tidak. Itu yang kita protes, ” ujar Erikson.

Amburadul

Senada dengan Erikson Lumban Tobing, Sekretaris Umum Gapeksindo Sumut Josua Farera Pangaribuan mengatakan, kalau dirinya sependapat dengan apa yang dikatakan Erik. Baik Sumut dan Medan sama saja, sama-sama amburadul penataan infrastrukturnya.

“Anggaran besar yang ada itu bukan hanya untuk dihabiskan, tapi untuk dipergunakan dan harus bermanfaat bagi masyarakat, simpang Jalan Sudirman direkonstruksi. Padahal, ini tidak perlu, sehingga menyebabkan penutupan jalan berbulan dan dampaknya menyebabkan kemacetan di mana-mana,” jelasnya.

Bahkan lanjut Jo biasa dipanggil, ketika selesai ada yang jatuh, belum lagi Lapangan Merdeka yang kita tidak tahu progresnya sudah sejauh mana, kemudian di Johor, Pemprov Sumut pun sama aja, pekerjaan Rp 2,7 triliun amburadul.

“Begitulah kalau orang -orang yang punya kekuasaan nggak punya moral hazard, jadinya bertingkah dan bersikap semau gue. Ke depan kita dari bidang konstruksi akan terus bersuara untuk memviralkannya, supaya publik semakin berani untuk bersuara yang benar,” tutupnya. (cbud)

Fito

Ilustrasi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *