MEDAN (Waspada.id): Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Dinkes Sumut) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit pascabencana banjir di sejumlah kabupaten/kota.
Berdasarkan update data per 31 Desember 2025 pukul 13.00 WIB, penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit kulit menjadi kasus tertinggi yang dilaporkan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid, mengatakan jumlah kasus ISPA tercatat mencapai 17.150 kasus, sementara penyakit kulit mencapai 13.107 kasus. Tingginya angka tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan pasca banjir.
“ISPA dan penyakit kulit mendominasi laporan penyakit pasca bencana. Hal ini dipengaruhi paparan air kotor, sanitasi lingkungan yang belum optimal, serta kepadatan dan kelembapan di lokasi pengungsian,” ujar Hamid, Sabtu (4/1).
Selain itu, Dinkes Sumut juga mencatat penyakit berbasis air dan makanan masih cukup tinggi. Kasus diare tercatat 2.536 kasus, Influenza Like Illness (ILI) sebanyak 1.006 kasus, serta suspek demam tifoid sebanyak 661 kasus.
“Angka ini menggambarkan masih adanya risiko penyakit saluran cerna dan pernapasan akut non-spesifik yang berhubungan langsung dengan kualitas air bersih dan keamanan pangan pasca banjir,” jelasnya.
Untuk penyakit yang ditularkan melalui vektor, Hamid menyebutkan terdapat 12 kasus suspek dengue. Meski jumlahnya relatif kecil, kewaspadaan tetap ditingkatkan karena potensi peningkatan tempat perindukan nyamuk biasanya terjadi setelah air banjir mulai surut.
“Upaya pelacakan kasus dan pemberantasan sarang nyamuk terus kami dorong di daerah terdampak,” katanya.
Sementara itu, Dinkes Sumut juga menerima laporan 1 kasus suspek leptospirosis serta 11 kasus suspek campak. Menurut Hamid, kasus suspek campak memerlukan pelacakan lebih lanjut, terutama di lokasi pengungsian dan pemukiman terdampak banjir guna mencegah penularan yang lebih luas.
“Untuk malaria dan pertusis hingga saat ini tidak ditemukan laporan kasus, namun pemantauan tetap dilakukan secara ketat,” tambahnya.
Hamid menegaskan, pola penyakit pasca bencana di Sumatera Utara menunjukkan dominasi penyakit kulit, pernapasan, serta penyakit berbasis air. Kondisi ini selaras dengan dampak banjir terhadap sanitasi lingkungan, hunian sementara, dan akses air bersih.
“Dinkes Sumut bersama kabupaten/kota terus memperkuat surveilans epidemiologi, pelayanan kesehatan, edukasi PHBS, serta memastikan ketersediaan air bersih dan obat-obatan agar potensi KLB dapat dicegah,” pungkas Hamid.(id20)











